Patung Penjaga Pintu Terbesar di Dunia Ada di Candi Singosari, Kabupaten Malang

Arca penunggu gerbang atau pintu Dwarapala terbesar di dunia berada di Candi Singosari, Kabupaten Malang. (Istimewa)
Arca penunggu gerbang atau pintu Dwarapala terbesar di dunia berada di Candi Singosari, Kabupaten Malang. (Istimewa)

MALANGTIMES - Kabupaten Malang sejak zaman purba telah menjadi salah satu sentra perkembangan budaya yang penting di Nusantara. Sejumlah ibu kota kerajaan di masa silam pernah dibangun dan berkembang di wilayah Kabupaten Malang. Misal Kerajaan Kanjuruhan (abad ke-8), Purwlwa (abad ke-11), Tumapel (abad ke-12) dan Sengguruh (abad ke-16).  

Berbagai peninggalan dari kerajaan tersebut, baik berbentuk candi, petirtaan, patung atau arca, sampai saat ini masih bisa dinikmati oleh masyarakat atau para peneliti purbakala sebagai bagian khazanah kekayaan bumi Nusantara.

Tetapi, tahukah Anda bahwa selain menjadi kekayaan bumi Nusantara, keberadaan artefak masa lalu di Kabupaten Malang ini, semisal di Candi Singosari dengan Dwarapala-nya juga sebagai bukti betapa canggihnya kemampuan para nenek moyang kita mengolah sumber daya alam dalam karya-karya arsitekur.

Dari berbagai literatur, bukti kecanggihan tersebut terlihat dari patung penjaga gerbang atau pintu yang disebut dwarapala dalam ajaran Siwa dan Buddha yang ada di Candi Singosari, Kabupaten Malang. Dwarapala Singosari merupakan mahakarya besar dan terbesar yang ada Jawa, bahkan di dunia.

"Banyak patung di dunia yang lebih tinggi dan besar, tapi tidak ada  patung penjaga pintu terbesar yang mengalahkan Dwarapala Singosari," kata Bupati Malang Dr H Rendra Kresna dalam perbincangan  santai beberapa waktu lalu dengan Malang TIMES di ruang kerjanya, Pendapa Pringgitan Malang.

Pernyataan bupati Malang ini didasarkan pada kemurnian bahan dari dua Dwarapala di Singosari, yaitu dari batu andesit utuh tanpa campuran seberat 40 ton dan tingginya 3,7 meter dalam posisi berjongkok. Bandingkan dengan patung atau arca yang secara konsep mirip dengan Dwarapala seperti yang ada di Thailand, Myanmar, Vietnam, Jepang, Tiongkok maupun Korea. 

Arca Dwarapala Singosari adalah arca terberat dari batu andesit utuh sekitar 40 ton dan tinggi 3,7 meter yang masih bertahan sampai kini sejak kerajaan Singosari

Di Negara-negara tersebut, patung serupa Drawapala ini secara bentuk lebih langsing dengan posisi tubuh tegak lurus. Bahan dari patung, semisal yang ada di Thailand, dari tembikar tanah liat yang dilapisi glazur pucat susu. 

Arca Dwarapala dalam agama Hindu dilambangkan sebagai patung penjaga candi. Dwara berarti jalan dan Pala berarti penjaga. Jadi, Dwarapala bisa diartikan sebagai penjaga jalan atau pintu gerbang pada candi atau istana. Dwarapala digambarkan sebagai raksasa menyeramkan yang membawa gada, seperti yang terlihat di Candi Singosari.

Keunikan dua arca Dwarapala peninggalan Kerajaan Singosari yang berkuasa pada tahun 1222 - 1293 M selain karena bentuknya yang sangat besar juga pose berbeda dari kedua arca  yang berada di sisi kiri dan kanan jalan utama Desa Candirenggo ini. 

Arca Dwarapala yang ada di selatan menghadap ke utara dengan posisi jongkok. Tangan kanan memegang gada dan tangan kiri memegang lutut. Di Dwarapala yang ada di utara menghadap ke timur, tangan kanan memberikan kode dua jari dan tangan kiri memegang gada terbalik. Perbedaan ini konon menyesuaikan tugas masing-masing. Dwarapala dengan kode dua jari memiliki arti mengingatkan rakyat untuk taat beragama. 

Kedua arca tersebut menggunakan mahkota dengan ukiran ular dan lambaian tengkorak. Terdapat anting (kundala) bermotif tengkorak pada telinga serta motif yang sama pada kalung (hara) yang ada di leher Dwarapala. Hiasan lain yaitu terdapat selempang/tali kasta (upavita) yang menyilang dengan hiasan ular. Dwarapala ini juga menggunakan kelat bahu (keyura), gelang tangan (kankana) dan juga gelang kaki.

Menurut Agus Sunyoto dalam Buku Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang, posisi kedua arca Dwarapala yang sekarang ini diduga telah mengalami perpindahan tempat dari aslinya. Hal ini menyebabkan letak Kerajaan Singosari secara posisi tepatnya menjadi tidak diketahui dengan adanya perpindahan arca Dwarapala.

"Di masa lalu, fungsi arca Dwarapala sebagai simbol dari penjaga pintu atau gerbang yang menunjukkan lokasi kerajaan," kata Agus Sunyoto, sejarawan Malang. Agus melanjutkan, kalau bertolok dari ajaran Saiva, terutama keberadaan dua arca Dwarapala, dapat disimpulkan istana Singosari berada di sebelah timur dua arca tersebut. Dalam ajaran Saiva ditetapkan Saiva bersemayam di Kailasa yang digambarakan dalam wujud lingga. Pintu gerbang timur ada penjaga utama yaitu Ganesha atau Ganapati. "Di utara ada penjaga Bhattari Gori dan gerbang selatan dijaga Rsi  Agastya," terangnya.

Agus melanjutkan, pada pintu gerbang barat terdapat dua penjaga, yaitu Kala dan Amungkala. Dengan demikian, dua arca Drawapala sebagai penjaga pintu gerbang Singosari yang ditemukan oleh gubernur Jawa pada masa penjajahan Belanda pada tahun 1803 yang bernama Nicolas Enderhard ini. Dapat disimpulkan sebagai penggambaran tokoh penjaga pintu barat yaitu Kala dan Amungkala. (*)

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top