Bupati Malang Rendra Kresna dan Lingkungan Hidup (6)

Satu Desa Satu Bank Sampah Bupati Malang Rendra Kresna Kurangi 4 % Sampah di Kabupaten Malang

Tiga dari kiri. Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, Ketua PKK Tingkat Kabupaten Jajuk Rendra Kresna saat membuka Jambore Sampah di TPA Talangagung, Kepanjen, Februari 2017 lalu. (Nana/MalangTIMES)
Tiga dari kiri. Bupati Malang Dr H Rendra Kresna, Ketua PKK Tingkat Kabupaten Jajuk Rendra Kresna saat membuka Jambore Sampah di TPA Talangagung, Kepanjen, Februari 2017 lalu. (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES – Sampah telah menjadi momok bagi masyarakat, pemerintahan maupun para pecinta lingkungan hidup.

Berbagai upaya mengurangi dan mengelola sampah yang setiap hari dibuang di berbagai tempat, serupa berjalan di tempat tanpa hasil maksimal. Lingkungan hidup, air, tanah, udara dan langit pun terancam dengan sampah yang setiap hari menggunung.

Kabupaten Malang tidak lepas dari permasalahan sampah. Ditahun 2016 produksi sampah di Kabupaten Malang diperkirakan mencapai 5.114 m3/hari yang tersebar pada 33 kecamatan.

Jumlah timbulan sampah terbesar menurut Data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Malang, tahun 2016 adalah di Kecamatan Singosari dan Kecamatan Pakis yaitu sebesar 346 m3/hari dan 284 m3/hari,.

Dari data inventarisasi TPST 3R, TPS-TPS dan bank-bank sampah, sampah diproduksi setiap harinya tidak bisa terolah semuanya atau hanya sekitar 27,67% atau 119,1 m3/hari. Sisa sampah yang belum terolah ini memerlukan penanganan supaya tidak mencemari lingkungan di sekitarnya.  

Kondisi inilah yang melahirkan ide mengenai SDSB (Satu Desa Satu Bank Sampah) yang dipelopori oleh Bupati Malang Dr H Rendra Kresna.

Program SDSB ini selain untuk mengurangi beban Tempat Penampungan Sementara Terpadu (TPST) 3R (Reduce, Reuse, Recycle) maupun Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dalam pengolahan sampah juga mendorong kesadaran masyarakat dalam masalah persampahan secara mandiri.

“SDSB dapat mereduksi sampah dari tingkat sumbernya sekaligus menjaga lingkungan agar tidak tercemar oleh sampah. Mengingat wilayah layanan persampahan Kabupaten Malang yang cukup luas dan cukup sulit untuk dapat dijangkau semuanya, SDSB jadi solusi efektit,”kata Bupati ke sembilan belas di Kabupaten Malang ini, Minggu (16/07).  

Usaha gigih Bupati Malang beserta jajaran terkait serta dibantu oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Malang dalam program SDSB ini telah mampu mengurangi beban sampah sekitar 4% atau 60 m3/hari dari total produksi sampah yang ada.

Bahkan, pertumbuhan kesadaran masyarakat dalam membangun bank sampah di Kabupaten Malang dari tahun 2016 yang berjumlah 255 unit meningkat menjadi 280 unit di tahun 2017. 

“Peningkatan bank sampah tersebut tentunya cukup menggembirakan karena kesadaran masyarakat terus tumbuh untuk bersama mengelola sampah. Inilah yang memang kita kejar dalam berbagai program pemerintahan yaitu peran aktif masyarakat dalam berbagai permasalahan yang ada di Kabupaten Malang,”ujar Rendra kepada Malang TIMES.

Tiga dari kiri. Bupati Malang saat berkunjung ke TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Dau yang merupakan TPST 3R terbaik dalam pengelolaan dan pengolahan sampah

Meningkatnya kesadaran masyarakat Kabupaten Malang tersebut diimbangi dengan anggaran oleh pemerintahan yang dipimpin oleh Rendra Kresna dalam memaksimalkan pengelolaan sampah.

Sejak tahun 2015, anggaran untuk pengelolaan sampah sebesar Rp 13,5 miliar dan di tahun 2017 sebanyak Rp 12,2 miliar.

Selain SDSB yang mengalami peningkatan jumlah di desa, Bupati Malang juga terus mendorong pertumbuhan TPST 3R yang di tahun 2016 ada sebanyak 39 TPST 3R. Keberadaan TPST 3R ini mampu mengolah sampah sebanyak 309,7 m3/hari.

“Dengan cukup signfikannya pengelohan sampah d TPST 3R ini, kita akan terus akan membangun tempat-tempat sejenis di beberapa kecamatan untuk menanggulangi sampah yang belum terolah di TPA,”ujar Rendra yang juga menyebut TPST 3R Mulyoagung Bersatu, Kecamatan Dau bisa direplikasi untuk tempat pengolahan sampah bagi kecamatan lainnya.

Pemerintah Kabupaten Malang juga mengembangkan beberapa inovasi dalam pengelolaan sampah melalui Pelayanan sapu bumi.

Layanan ini melibatkan masyarakat untuk bersama-sama mengelola sampah dalam skala kawasan dengan layanan door-to-door (dari rumah ke rumah).

Selain itu ada inovasi penggunaan “Bambu Petung” sebagai alternatif penangkap gas metana di TPA Paras Poncokusumo, dan Wisata Edukasi di TPA Talangagung sebagai media pembelajaran pengolahan sampah terpadu.  

Berbagai inovasi Bupati Malang tersebut diganjar berbagai prestasi dan penghargaan yang diterima baik dari tingkat pusat maupun tingkat provinsi.

Beberapa penghargaan tingkat nasional dan provinsi di bidang lingkungan hidup yang telah diperoleh di tahun 2016 antara lain, Adipura Kirana untuk ketegori Kota Kecil Kepanjen yang merupakan penghargaan Adipura ke 9 yang diterima Pemerintah Kabupaten Malang, Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional yang diraih oleh 2 sekolah dan 5 sekolah meraih penghargaan Adiwiyata tingkat Provinsi, Kampung Proklim, Kalpataru tingkat Provinsi untuk kategori Perintis, Pengabdi dan Penyelamat Lingkungan dan Peringkat Pertama Program Menuju Provinsi Hijau Tingkat Provinsi Jawa Timur. 

Di tingkat daerah, dalam upaya untuk mendukung meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang juga memberikan apresiasi dengan memberikan penghargaan lingkungan kepada perorangan/individu atau kelompok masyarakat atau pelaku usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai kepedulian dan berjasa meningkatkan kualitas lingkungan. Sasaran kegiatan tersebut dimulai dari sekolah, desa, Perusahaan/Industri, baik kelompok maupun perorangan.  

“Karena permasalahan lingkungan hidup adalah tanggungjawab kita semua, maka peran masyarakat dan unsur lainnya menjadi penentu keberhasilan. Tanpa itu, sekeras dan sebanyak apapun anggaran pemerintah tidak akan menyelesaikan urusan lingkungan hidup,”pungkas Rendra. 

Editor :
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top