Kartika Wijaya Heritage Batu, Hotel Paling Bersejarah di Malang Raya

Hotel Kartika Wijaya Pada Tahun 1948. (Foto: Hotel Kartika Wijaya Heritage for Malang TIMES)
Hotel Kartika Wijaya Pada Tahun 1948. (Foto: Hotel Kartika Wijaya Heritage for Malang TIMES)

Pemandangan alam yang asri dan udara yang sejuk sepanjang hari di Kota Batu menjadi daya tarik tersendiri bagi para saudagar Balanda pada masa kolonial kala itu.

Maka tidak heran jika para pembesar Belanda kerap menjadikan Kota Batu sebagai tempat peristirahatan mereka diakhir pekan.

Hal itu jugalah yang membuat Martyrose Ter Martin Sarkies memutuskan untuk membangun sebuah rumah peristirahatan diakhir pekan di Kota Batu pada tahun 1891. Bangunan inilah yang lalu menjadi cikal bakal Hotel Kartika Wijaya.

Martyrose sendiri adalah seorang pengusaha perhotelan yang ternama dan memiliki beberapa hotel besar di Asia Tenggara seperti Rafless Hotel di Singapura, Hotel Strand di Birma, Hotel Oranje atau sekarang lebih dikenal sebagai Hotel Majapahit di Surabaya dan Hotel Niagara di Lawang.

Front Office Manager and Marketing Manager Kartika Wijaya Heritage Hotel Tovid Agus Ivandi menyampaikan arsitektur Eropa kuno begitu terasa di hotel ini saat pegunjung memasuki lobi.

"Pada bangunan utama, kami masih mempertahankan bentuk aslinya tidak ada yang diubah sedikitpun. Bahkan lampu yang menggantung pun masih asli, hanya bola lampunya saja yang diganti,”jelas pria yang akrab disapa Tovid ini.

Jika memasuki bangunan utama, yaitu lobi hotel, Anda akan disambut dengan ramah oleh receptionist. 

Tidak hanya resepsionis yang memang friendly, Peta Jawa yang terbuat dari kaca kikir menyerupai mozaik pun menambah kesan eksotis tempat ini.

Atap yang terbuat dari plat besi cukup tebal begitu kokoh menjadi tempat bergantungnya lampu kristal khas zaman Kolonial Belanda. Meski terbuat dari besi, namun lobi tetap terasa sejuk dan ‘adem’ kendati cuaca di luar begitu menyengat panasnya.

Berdiri di atas tanah hampir 2 hektar, hotel yang juga dikenal sebagai Jambe Dawe ini kini memiliki 115 kamar, 49 di antaranya terdapat di bangunan utama.

“Di bangunan utama mengalami renovasi sedikit hanya pada kamar. Kami menambah jumlah kamar hingga total ada 49 kamar,”jelas Tovid.

Jambe Dawe sendiri berarti pohon pinang yang melambai-lambai. Pohon pinang yang dimaksud adalah pohon pinang yang tumbuh tegak di halaman hotel hingga kini.

Pengembangan lalu dilakukan di bagian kanan dan kiri bangunan utama. Hotel ini diresmikan oleh Gubernur Jawa Timur Wahono pada 18 November 1986.

Sebelumnya, Hotel Kartika Wijaya ini sempat beberapa kali mengalami alih fungsi bangunan.

 

Pewarta : Hezza Sukmasita
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top