Anak Wali Kota Ini Tidak Canggung Jualan Takjil di Pasar Ramadan

Lely Ansisca putri pertama Wali Kota Malang H Moch Anton (kiri) tampak santai dan cekatan saat melayani pembeli di Pasar Ramadhan Soehat beberapa waktu lalu. (Foto: Imam Syafi
Lely Ansisca putri pertama Wali Kota Malang H Moch Anton (kiri) tampak santai dan cekatan saat melayani pembeli di Pasar Ramadhan Soehat beberapa waktu lalu. (Foto: Imam Syafi'i / MalangTIMES)

MALANGTIMES - Angin berhembus lembut di sela-sela kepadatan manusia yang menyemut di Pasar Ramadan Jalan Soekarno-Hatta (Soehat), Kota Malang, sore itu. Cuaca yang sedikit mendung semakin menambah syahdu Ramadan hari ke-12 di kawasan ini.

Di depan Vivace Karaoke ada satu stan yang menjual minuman es buah sebagai takjil. Stan itu tampak sama dengan stan lainnya. Penjual menjajakan es buah, es blewah, dan bersanding dengan nasi cumi dan beberapa jenis makanan lainnya.

Stan yang berdiri di sebelah selatan Pasar Ramadan Soehat ini ramai saat menjelang berbuka. Sama dengan yang lain. Hanya saja, ada satu hal yang menarik dan menjadi magnet bagi tim MalangTIMES untuk mampir sejenak ke tempat jajanan ini.

Tampak seorang wanita dengan tubuh agak berisi mengenakan kaus oblong hitam melayani pembeli dengan senyum yang senantiasa merekah. Tidak ada yang istimewa. Dia hanya mengenakan celana jeans panjang dan sandal jepit. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai dan melambai-lambai tersapu angin. Wajahnya yang tanpa polesan make up pun masih tampak ayu.

Namanya Lely Ansisca. Ya, siapa kira wanita murah senyum ini adalah putri pertama orang nomor satu di Kota Malang H Moch. Anton. Lely berhasil menghapus image bahwa anak petinggi haruslah bergaya high class. Atau, memiliki kulit mulus bak porselen hasil karya salon ternama atau dengan pakaian yang wah, naik mobil mewah dan menggunakan barang-brang branded. Tidak jarang juga beranggapan anak wali kota cocoknya kerja kantoran dalam ruang ber-AC.

Ah, anggapan itu tidak berlaku untuk Lely dan keluarga besar Moch. Anton. Meski terlahir dari keluarga pengusaha yang serba berkecukupan, bahkan berlebih, Lely memilih tetap mengasah kemampuan berbisnisnya dengan hal-hal kecil. ”Saya cuman pingin berpartisipasi aja di sini. Sekalian mengasah kemampuan berbisnis dan nambah pengalaman,” ujar Lely saat dikunjungi MalangTIMES di stan miliknya.

Meski berpredikat anak wali kota, Lely tetap tidak canggung melayani pembeli dengan hangat. Lely dengan ditemani suaminya cukup terampil menjajakan dagangannya. Dalam sehari biasanya Lely berhasil menjual antara 20-50 cups es buah. Tiap cup es buah, Lely menjualnya dengan harga Rp 6.000. Kesimpulannya, dalam sehari Lely mendapatkan untung tidak lebih dari Rp 400 ribu. Nominal ini tentu sangat ‘njomplang’ dengan aset miliaran yang dimiliki sebagai keluarga pengusaha tetes tebu.

“Saya senang banget kalau laku banyak. Walaupun untung cuma tiga ratus ribu rupiah, tapi rasanya lega,” ungkap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya ini dengan sumringah.

Meski anak wali kota, untuk mendapatkan tempat di Pasar Ramadan Soehat, dia tetap mengikuti prosedur yang diterapkan. Bahkan, Lely tidak membayar uang sewa stan dengan lebih untuk mendapatkan tempat yang strategis. “Tempat kami seadanya aja. Yang penting bisa untuk jualan. Kami juga tidak minta untuk diistimewakan petugas di sini,” kata Lely.

Saat disinggung soal ayahnya yang notabene wali kota Malang, Lely merespons dengan senyum manis dan raut sedikit sungkan di wajahnya. ”Papa (Abah Anton) tahu kok kalau aku jualan di sini. Awalnya kaget tapi mendukung juga. Bahkan kadang Mama (Umi Farida) ikut bantu motongin buah. Selama ini Papa dan Mama selalu mengajarkan untuk sederhana karena dulu Papa juga dari orang nggak ada dan sendiri,” ungkap kakak dari Yan Hidayat dan Hans Chandara Wijaya ini.

Lely menambahkan, orang tuanya selalu mengajarkan untuk bekerja keras dan tidak bermalas-malasan. Ilmu berbisnis dari orang tuanya benar-benar diterapkan Lely hingga membuatnya tetap sederhana, tidak berlebihan dan tetap rendah hati. “Papa juga selalu ngajarin bijaksana menggunakan uang,” imbuh wanita yang sempat menolak untuk diekspos ini.

Berdagang sudah menjadi bakat turunan bagi Lely. Sebab, semasa kuliah, Lely sudah mulai menjajakan dagangan berupa baju-baju yang sedang tren di masa itu dengan menawarkan ke satu per satu teman kuliahnya. Bahkan tidak jarang, Lely mengkreditkan baju yang dijualnya itu. Berkat keuetannya itu, Lely berhasil membuat butik di kawasan Tlogomas dengan tabungannya sendiri. (*)

Pewarta : Hezza Sukmasita
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top