Bupati Malang Rendra Kresna: Bersepeda Onthel pun Saya Lalui, Demi Taklukkan Kesulitan

Bupati Malang, Rendra Kresna memberikan sambutan dan menceritakan motivasinya sebagai pengejar ilmu yang gigih dan yakin lewat pendidikan masa depan yang cerah bisa digapainya kepada seluruh ASN di Stadion Kanjuruhan Kepanjen (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Bupati Malang, Rendra Kresna memberikan sambutan dan menceritakan motivasinya sebagai pengejar ilmu yang gigih dan yakin lewat pendidikan masa depan yang cerah bisa digapainya kepada seluruh ASN di Stadion Kanjuruhan Kepanjen (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES – Langkahnya sempoyongan. Jarak 500 meter yang dilaluinya serasa begitu panjang dengan kondisinya yang sedang sakit. Tapi, hal penting bagi kehidupannya sedang menanti yaitu Ujian Negara Cicilan (UNC). Maka, tubuhnya dipaksakan untuk bisa sampai ke tempat ujian di gedung SMA Muhammadiyah yang waktu itu bukan rute Angkotan Kota.

Sesampainya di ruangan ujian, lelaki kelahiran Pamekasan, 22 maret 1962 ini, sudah tidak bisa berkonsentrasi untuk menjawab soal-soal UNC. Maka, di lembar jawaban tersebut ditulislah Bismillah serta sedikit catatan permohonan maaf berbunyi, 'mohon maaf jawaban saya kurang memuaskan karena saya sedang sakit'.

"Waktu itu saya jawab saja soal semampunya. Saya tidak yakin itu benar. Itulah sebabnya di lembar jawaban saya kasih pesan seperti itu," kata bapak empat anak ini mengenang masa kuliahnya sekitar tahun 1980-an di Universitas Muhammadiyah Malang.

Sosok tersebut di atas tak lain adalah Dr. Rendra Kresna, Bupati Malang. Sosok yang terbiasa ditempa dan bergulat dengan kerasnya kehidupan dalam menaklukkan berbagai kesulitan.

Rendra yang merupakan alumnus UMM tahun 1989 ini menuturkan bahwa pergulatannya semasa kuliah cukup keras dan menjadi bagian kehidupan yang tidak pernah bisa dilupakan dalam perjalanan hidupnya sampai kini.

"Dulu, saat kondisi sakit dan harus menghadapi ujian, saya tidak yakin bisa lulus. Ternyata setelah menaklukkan rasa sakit dan memaksakan tubuh dan pikiran saya, bisa lulus dan dapat nilai B," kenangnya.

Ia menyampaikan mungkin saat itu dengan tulisan curhatnya itu, dosen merasa iba terhadap perjuangannya. "Mungkin dosennya kasihan kepada saya," ujarnya sambil tertawa mengenang salah satu kisah perjalanan hidupnya ini.

Rendra selain bergulat dengan berbagai buku Ekonomi dalam menggapai gelar Sarjana Ekonominya tersebut, waktunya juga dipakai untuk bekerja dan berorganisasi. Saat kuliah di UMM, Rendra masih bekerja di Kebon Agung, Pakisaji. Ada kisah yang mungkin tidak dilupakannya saat bekerja di Kebon Agung ini yang dituturkan sebagai bentuk perjuangan yang dia tularkan juga kepada anak-anaknya. 

Dulu, rumah Rendra berada di Sawojajar. Untuk mencapai lokasi kerjanya, perlu tiga kali oper angkutan umum. "Jadi yang namanya gaji ya habis untuk transportasi saja," ucap Rendra. 

Tidak menyerah dengan kondisi tersebut, tercetus ide untuk membeli sepeda pancal (ontel). Sepeda itulah yang menemani Rendra selama setahun sampai mampu membeli sepeda motor. 

"Jadi perjalanan hidup saya tidak seperti yang dipikiran atau dibayangkan banyak orang, enak melulu. Ada proses dimana saya juga dihadapkan dengan berbagai kesempitan dalam meraih cita-cita," ucap Rendra, Minggu (20/05) kepada MALANGTIMES.

Berbagai tempaan hidup itulah yang kini membuat Rendra yang pernah menjabat Ketua SPSI  Jawa Timur kini mencapai jabatan tertinggi di Kabupaten Malang selama dua periode. Walaupun sebenarnya cita-citanya dulu bukan menjadi Kepala Daerah atau berada di eksekutif tetapi di Legislatif.

"Lepas dari perjalanan cita-cita tersebut, saya percaya melalui pendidikan lah semua bisa dicapai," imbuh Rendra yang semenjak menjabat Bupati Malang pada tahun 2010 begitu peduli dengan dunia pendidikan di wilayah yang dipimpinnya ini.

Bahkan, di periode keduanya yaitu 2016-2021, Rendra terus gigih berjuang untuk dunia pendidikan atas permasalahan kurangnya guru Aparat Sipil Negara (ASN) di Kabupaten Malang yang cukup memprihatinkan karena kebijakan Moratorium Pemerintah.

Baginya, pendidikan akan mencapai nilai maksimal sesuai tujuannya apabila para murid terdampingi secara penuh oleh guru-guru yang memiliki kompetensi di bidangnya. "Sampai awal tahun ini, satu guru bisa mengajar dua sampai tiga mata pelajaran dan di beberapa sekolah yang berbeda. Ini tentunya akan menimbulkan ketidakoptimalan pengajar dan yang diajarnya," terangnya.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top