Mencari Wali Kota yang Tulus (2)

Masuk Level Satu, Rektor dan Artis Nasional Warnai Bakal Calon Wali Kota Malang

Ilustrasi bakal calon wali kota malang
Ilustrasi bakal calon wali kota malang

MALANGTIMES - Atmosfir politik di Kota Malang mulai memanas. Masing-masing partai politik mulai pasang kuda-kuda. Saling bergaining dan saling mengintip mulai dilakukan. Lobi-lobi dari tingkat bawah hingga tingkat atas juga sudah dijalankan.

Di satu sisi, para sosok yang merasa dirinya pantas menjadi pemimpin melakukan aksi-aksi tebar pesona alias moduser. Nyaris semua sosok sudah menjalankan aksi pencitraan. Hanya sedikit tokoh yang nothing to lose.

Menurut pengamatan Lumbung Informasi Rakyat (LIRa), saat ini ada beberapa nama yang muncul di permukaan. Koordinator LIRa Malang Raya Muhammad Zuhdy Achmady mengatakan, sudah ada nama-nama tokoh yang kini mencuat di masyarakat.

Pria yang akrab dipanggil Didik tersebut menjelaskan, dirinya memisahkan tiga level tokoh dalam percaturan pilwali Kota Malang. Level pertama diisi oleh tokoh-tokoh yang dinilai LIRa layak menjadi bakal calon wali kota.

"Yang masuk level pertama ini adalah sosok yang mempunyai kompeten dan namanya sudah populer di mata masyarakat. Selain itu, mereka dinilai mampu memimpin Kota Malang," ujar Didik.

Nama-nama yang masuk level pertama tersebut adalah wali kota incumbent Moch. Anton, Rektor Universitas Brawijaya Prof Dr M. Bisri, Anggota DPRRI dari Gerindra Moreno Soeprapto, anggota DPRRI dari PAN Anang Hermansyah, Ketua DPRD Kota Malang Arief Wicaksono, dan Sekretaris DPD PDIP Sri Untari.       

Sedangkan untuk level dua, ada empat nama yang dianggap layak menjadi bakal calon wakil wali kota. Di level ini ada nama-nama seperti wakil wali kota incumbent Sutiaji, Ketua DPD Perindo Kota Malang Laily Fitriyah Liza Min Nelly, Ketua DPD Golkar Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko, dan Ketua DPC PPP Kota Malang Heri Puji Utami.

Selain level satu dan dua, Didik juga menjelaskan ada nama-nama yang masuk level tiga. Di level tiga adalah tokoh-tokoh yang dinilai bisa menjadi calon alternatif untuk menjadi bakal calon wakil wali kota.

Di level tiga ini ada beberapa nama untuk menjadi calon alternatif wakil wali kota. Yakni Direktur Jawa Pos Radar Malang Kurniawan Muhammad, Ketua DPC Hanura Kota Malang Ya'qud Ananda Gudban, Sekretaris Real Estate Indonesia (REI) Komisariat Malang Syamsul Mahmud, dan Ketua FKPPI Jatim Agoes Soerjanto.

Didik menjelaskan, masing-masing calon mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Bisri misalnya, selama ini dikenal sebagai sosok yang bersih, pintar, dan mampu memberikan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang selama ini belum terselesaikan di Kota Malang.

Bisri juga mempunyai jaringan yang kuat di kalangan NU, akademis, dan tingkat pusat. Hanya saja, kelemahan Bisri untuk dicalonkan, dia tidak mempunyai partai yang bisa merekomendasikan namanya.

Untuk Anton, kelebihannya adalah dia merupakan petahana. Saat ini, namanya lebih populer dibandingkan kandidat lainnya. Partai bukan lagi masalah, sebab dia sekarang menjadi ketua DPC PKB Kota Malang.

Di sisi permodalan, Anton terbilang juga cukup kuat. Selain itu, Anton dinilai cukup sukses dalam membangun taman selama periode kepemimpinannya.

Kelemahan Anton adalah masih belum terselesaikannya persoalan-persoalan krusial dalam kepemimpinannya. Masalah banjir dan kemacetan hingga kini belum mendapatkan solusi.

Sedangkan Moreno dan Anang, kelebihan mereka adalah sudah terbilang populer di Kota Malang. Mereka juga merupakan orang partai. Hanya saja, untuk mencalonkan nama mereka sebagai wali kota, partainya masih perlu koalisi.

Sebab, untuk bisa merekomendasikan kandidat dibutuhkan sedikitnya sembilan kursi. Sedangkan PAN dan Gerindra masing-masing hanya mempunyai empat kursi.

Di PDIP sendiri saat ini ada dua nama kandidat yang menguat. Yakni Arief Wicaksono dan Sri Untari. Siapa yang direkom, tinggal menunggu keputusan DPP.

Untuk basis, kedua nama tersebut sama-sama mempunyai kekuatan yang mumpuni. PDIP yang mempunyai sebelas kursi bisa mencalonkan sendiri tanpa koalisi dengan partai lainnya.

Di level kedua, nama Laily Fitriyah Liza Min Nelly muncul karena aktivitas sosialnya yang selama ini kerap dilakukannya. Jauh sebelum menjadi ketua DPD Perindo, Nelly sudah dikenal masyarakat karena kerap memberikan bantuan kepada masyarakat lapisan bawah.

Selain itu, Nelly juga dikenal sebagai sosok yang mempunyai jaringan elit cukup luas. Hanya saja, kelemahan paling dasar Nelly adalah tidak mempunyai kursi di parlemen.

Ketua DPD Golkar Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko juga menjadi sosok bakal calon wakil wali kota yang kuat. Selain mempunyai pengalaman yang kuat di legislatif, Golkar juga  mempunyai mesin partai yang cukup efektif.

Nama Sutiaji dimasukkan ke level kedua karena saat ini dia tidak mempunyai partai. Walaupun cukup berpengalaman di legislatif maupun eksekutif, namun tidak adanya partai membuat dia kesulitan untuk muncul menjadi wali kota. Dana juga menjadi keterbatasan bagi Sutiaji.

Ketua DPC PPP Kota Malang Heri Puji Utami masuk level kedua karena dia mempunyai permodalan yang cukup luas. Dengan basis massa yang masih digalang suaminya yang merupakan mantan wali kota Peni Suparto, dia berpeluang untuk maju jadi kandidat N2. Selain itu, Heri juga menjadi ketua DPC PPP yang memiliki tiga kursi.

Di level ketiga, Kurniawan Muhammad dan Syamsul Mahmud masuk radar kandidat karena terkenal dekat dengan Anton. Hanya saja, mereka tidak mempunyai modal dan partai.

Ya'qud Ananda Gudban masuk level tiga karena dinilai layak menjadi salah satu kuda hitam yang paling menonjol. Selain cantik dan pintar, Nanda juga menjadi ketua partai dengan tiga kursi.  

Ketua FKPPI Jatim Agoes Soerjanto dinilai mempunyai jaringan yang cukup luas. Aktivitas sosialnya selama ini juga dikenal masyarakat. Hanya saja, dia masih belum memiliki partai yang bisa diandalkan untuk merekom namanya.

 

 

Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top