Mencari Wali Kota Malang yang Tulus (1)

Awas Jangan Tertipu, Banyak Sosok Tebar Pesona alias Moduser Jelang Pilwali

ilustrasi : malangtimes
ilustrasi : malangtimes

MALANGTIMES - Jangan heran jika saat ini banyak tokoh di Kota Malang yang tiba-tiba menjadi baik. Tak usah kaget jika saat ini tiba-tiba banyak politisi yang peduli dengan kepentingan masyarakat.

Mereka sepertinya berlomba-lomba menebar pesona kepada masyarakat. Saling pamer kebaikan dan unjuk kelebihan. Pokoknya, mereka ingin mendapatkan pengakuan dari masyarakat bahwa mereka itu orang baik.

Munculnya fenomena banyak tokoh tebar pesona ini bukanlah hal aneh. Apalagi menjelang momen-momen pemilihan wali kota seperti di Malang yang bakal digelar pada 2018 mendatang. Di Kota Malang sendiri, tahapan pilwali dimulai Agustus 2017 mendatang.

Pakar politik Kota Malang DR Wahyudi Winarjo M.Si meminta masyarakat jangan silap mata dengan aksi-aksi pamer dan tebar pesona para tokoh. Sebab, jika sampai masyarakat tersilap oleh pesona palsu tersebut, maka masyarakat sendiri yang akan menjadi korban.

Tebar pesona ini bukan hanya mencari simpati masyarakat bawah. Tapi juga dilakukan untuk menarik hati para elit-elit partai di pusat. Mereka juga menebar pesona agar bisa masuk dalam lembaga survei sebagai sarana agar bisa direkom oleh pengurus partai pusat.

"Saat ini sudah banyak sosok yang tebar pesona. Masyarakat Kota Malang saya kira sudah pintar, mana sosok yang benar-benar tulus, dan mana yang hanya sekadar pencitraan," ucap Wakil Drirektur III Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut.

Masyarakat harus bisa memilah dan memilih tokoh mana yang benar tulus dan sosok mana yang hanya sekadar cari perhatian untuk kepentingan sesaat. Membedakan mana tokoh tulus dan mana yang sekadar tebar pesona bisa dibilang gampang-gampang sulit.

Menurutnya, tokoh yang benar-benar tulus menjalankan aksinya, tak akan terpengaruh oleh momen apapun. Dan aksi yang dilakukannya juga selalu berkesinambungan. Motif yang mereka lakukan adalah pengabdian dan kepentingan sosial.

Dalam setiap aksinya, tokoh yang tulus ini tidak pernah mencantumkan embel-embel nama partainya, apalagi nama pribadinya. Dan dalam setiap menjalankan aksinya, mereka ini tidak peduli apakah kegiatannya diliput wartawan atau tidak.

Sedangkan tokoh yang hanya sekadar pencitraan atau tebar pesona, biasanya muncul menjelang momen tertentu, seperti pilkada. Politisi yang biasanya cuek turun ke bawah, tiba-tiba rajin ke bawah.

Misalnya, politisi yang awalnya tidak suka olahraga, kini tiba-tiba peduli dengan olahraga. Dan tokoh palsu ini mempunyai kebiasaan membantu seseorang dengan embel-embel menitipkan identitas dirinya atau partainya.

Para penebar pesona ini akan sangat kecewa jika dalam menjalankan aksinya tidak ada wartawan yang meliput kegiatannya. Mereka biasanya juga tidak segan-segan membayar media untuk iklan.

Para pelaku tebar pesona saat ini disebut dengan moduser. Mereka baru bergerak melakukan kebaikan jika ada sesuatu keinginan yang diraihnya. Bila keinginannya sudah tercapai, para moduser itu langsung berubah perilakunya.

"Pejabat di Kota Malang, baik itu yang eksekutif maupun legislatif, bisa dibilang moduser. Mereka lebih mengarah kepada kepentingan sesaat. Karenanya, masyarakat harus benar-benar pandai dalam memilih calon," terangnya.

Pewarta : Hezza, Imam, Hendra, Anggoro
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top