Dengan Pengasapan Bubuk Mesiu, Koramil 0818/05 Kepanjen Berantas Tikus

Tikus yang mati dikarenakan pengasapan dari bubuk mesiu berbahan belerang oleh Brigade Pemberantasan Tikus dari Koramil 0818/05 Kepanjendi di Desa Curungrejo (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Tikus yang mati dikarenakan pengasapan dari bubuk mesiu berbahan belerang oleh Brigade Pemberantasan Tikus dari Koramil 0818/05 Kepanjendi di Desa Curungrejo (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Cuaca ekstrim selain mempengaruhi siklus bercocok tanam para petani, ternyata juga berdampak pada pesatnya pertumbuhan hama tikus. Sigap melakukan penanganan, Koramil 0818/05 Kepanjen langsung bertindak membentuk Brigade Pemberantasan Tikus.

Brigade Pemberantasan Tikus tersebut langsung dipimpin oleh Danramil 0818/05 Kepanjen Kapten Arm. Supiyarto.

"Hama tikus telah mulai menyerang sawah petani di Semanding Desa Curungrejo. Untuk itu kita langsung membentuk Brigade Pemberantasan Tikus untuk memburunya," kata Supiyarto, Kamis (18/05).

Bersama petani di Desa Curungrejo, Kecamatan Kepanjen, Brigade Pemberantasan Tikus 0818/05 melakukan grebek tikus. "Dari berbagai laporan di wilayah lainnya, tikus memang sudah menyerang persawahan," ujar Supiyarto kepada MALANGTIMES.

Dia juga mengatakan, tikus adalah hama kedua terpenting pada tanaman padi di Indonesia. Hama ini harus diperhatikan khusus, karena serangannya bisa membuat hasil produksi petani menyusut sangat banyak.

"Populasi tikus sangatlah cepat dan tinggi. Dari satu pasang ekor tikus bisa berkembang biak menjadi 1.270 ekor per tahun," imbuhnya.

Apabila dibiarkan merajalela maka hama tikus di wilayah Kabupaten Malang akan membuat program ketahanan pangan yang sedang terus ditingkatkan oleh seluruh pemangku kepentingan menjadi gagal.

Grebek Tikus yang dilakukan Koramil Kepanjen bersama sejumlah petani di wilayah tersebut, adalah salah satu upaya memberantas hewan berordo Rodentia, famili Muridae dan sub-famili Murinae ini agar tidak semakin membuat kerusakan menjadi besar.

Untuk memberantas tikus, Brigade Pemberantasan Tikus bersama petani menggunakan pola pengasapan yang dihasilkan dari bubuk mesiu yang berbahan belerang.

"Kita pakai cara itu karena serangan tikus sangat tinggi di wilayah kami," ucap Supiyarto.

Caranya, setiap lubang atau yang diidentifikasi sarang tikus langsung diasapi. Hasilnya, setiap tikus yang berada di lubang tersebut langsung mati.

Walau pola pengasapan tidak akan secara langsung memusnahkan para tikus, tetapi bila dilakukan secara berkala dan terpadu akan sangat efektif mengurangi perkembangbiakan tikus yang mengganggu tanaman padi. 

"Kita akan terus mengawasi dan mengawal para petani dalam permasalahan hama tikus ini," pungkas Supiyarto. 

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top