Bupati Malang Rendra Kresna Bangkitkan Semangat Warga lewat Tanduk Majeng di Wonorejo

Bupati Malang Dr Rendra Kresna menyapa warganya di Desa Wonorejo melalui lagu tradisi Tanduk Majeng yang menceritakan perjuangan nelayan menghadapi kerasnya tantangan, Rabu (17/05) malam. (Nana)
Bupati Malang Dr Rendra Kresna menyapa warganya di Desa Wonorejo melalui lagu tradisi Tanduk Majeng yang menceritakan perjuangan nelayan menghadapi kerasnya tantangan, Rabu (17/05) malam. (Nana)

MALANGTIMES - Bupati Malang Dr Rendra Kresna adalah pecinta kesenian tradisional. Berbagai acara kesenian tradisional disukainya. Ludruk, tari, sampai lagu daerah menjadi bagian kesehariannya dalam menjalankan tugasnya sebagai bupati maupun sebagai pribadi.

Hal ini terlihat dalam berbagai upayanya menghidupkan kesenian tradisional di setiap kegiatan bersama masyarakat. Misalnya dalam program Bina Desa sebagai salah satu program unggulan Kabupaten Malang dalam menyapa dan menyerap suara masyarakat.

Rendra tidak sekadar menyapa masyarakat lewat dialog semata, tetapi juga melalui lagu daerah yang fasih didendangkannya sebagai bentuk kecintaan atas seni tradisi."'Ole...olang, paraonah alajarah, ole...olang, alajarah ka Malang...," dendang Rendra yang membawakan lagu tradisi Madura berjudul Tanduk Majeng yang diiringi musik dari kelompok ludruk Adi Laras dalam acara Bina Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, yang berlangsung dari 17-18 Mei 2017.

Sontak warga Wonorejo yang juga fasih berbahasa Madura ikut bersama-sama bupati menyanyi dan menari secara rancak lagu Tanduk Majeng yang merupakan lagu perjuangan menggapai harapan masa depan. "Saya mencintai musik tradisi karena punya nilai filosofi tinggi dalam kehidupan," kata Rendra, Kamis (18/05) kepada MALANGTIMES.

Dia menjelaskan pemilihan lagu Tanduk Majeng atau Tondu' Majang yang artinya nikmatnya mencari ikan, selain sebagian besar warga Wonorejo familiar dengan liriknya juga sebagai 'klangenan'-nya.

Lagu Tanduk Majeng menceritakan kerasnya kehidupan nelayan untuk berjuang menghidupi keluarganya."'Atemmo bhabhaja, bhandha nyaba,  abhantal omba sapo angen' (mempertaruhkan nyawa, hidup berbantal ombak dan berselimut angin untuk menghidupi keluarga).

"Nilai filosofisnya tinggi dan relevan sampai saat ini. Untuk berhasil diperlukan perjuangan keras walau rintangannya besar,"ujar Rendra yang juga penulis buku Tradisi Petekan; Tes Keperawanan dari Negeri Khayangan yang secara serial juga dipublish oleh MALANGTIMES.

Rendra menuturkan bahwa keluhuran seni tradisi melalui lagu akan selalu relevan sampai kapanpun saat kita bersedia menyerap pesan yang dikandungnya. "Tanduk Majeng walau pakai bahasa Madura tapi sifatnya universal. Inilah kekuatan dari seni, khususnya tradisi," imbuh Rendra.

Penanaman nilai-nilai dan karakter yang diolah melalui keindahan dan kedalaman lagu tradisi inilah yang membuat Rendra selalu jatuh cinta pada dunia kesenian di sela-sela padatnya aktivitas sebagai bupati.

Selain bersifat klangenan, seni tradisi yang kini semakin kehilangan penontonnya di tengah banjirnya berbagai budaya pop manca negara, membuat Bupati Malang cukup miris. 

Walau tidak anti budaya pop, Rendra selalu mendorong agar masyarakat untuk ikut serta 'nguri-nguri' kembali kekayaan dan kedalaman nilai kesenian tradisi yang bertahan di Kabupaten Malang.

"Kita hidupkan, lestarikan budaya tradisi dalam setiap kegiatan. Agar tidak hilang budaya asli kita sendiri,"pungkas Rendra.

'Ole...olang, paraonah alajarah, ole...olang, alajarah ka Malang...' Perahu bernama Kabupaten Malang telah berlayar untuk terus berjuang mendapatkan hasil yang diperuntukkan bagi masyarakatnya. (*)

Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top