Merakyat, Bupati Malang Rendra Kresna Sihir Ratusan Warga Singosari

Bupati Malang Dr Rendra Kresna, menyapa ratusan warga dengan karakternya yang merakyat dalam acara Bina Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Rabu (17/05) malam. (Nana)
Bupati Malang Dr Rendra Kresna, menyapa ratusan warga dengan karakternya yang merakyat dalam acara Bina Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Rabu (17/05) malam. (Nana)

MALANGTIMES - "Itu loh Pak Rendra yang pakai peci hitam." Begitulah bisik-bisik kerumunan warga Dusun Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, yang berdiri di kiri-kanan jalan yang dilalui Bupati Malang Dr Rendra Kresna saat berjalan kaki menuju lapangan dari home stay-nya sejauh kurang lebih 400 meter.

Sepanjang jalan tersebut, banyak warga berebut dan bersalaman yang dibalasnya dengan keramahan 'ala desa' oleh Rendra Kresna.

Kerumunan warga Desa Wonorejo semakin memadati dan memenuhi lapangan, tempat acara Silaturahmi dan Dialog Terbuka antara Bupati Malang dengan masyarakat Singosari dalam rangka Bakti Sosial Menata Desa M3 'Madep Manteb Manetep', Rabu (17/05) malam.

Dihadiri seluruh pemangku kepentingan Kecamatan Singosari serta ratusan warga Wonorejo, Rendra kembali menampilkan karakter merakyatnya saat membuka acara. Saat unjuk salamnya tidak berbalas gema dari warga, dia turun dari panggung yang memisahkannya dengan warga. "Terlalu jauh ya, saya turun biar lebih terdengar," kata Rendra mendekati warga yang duduk di atas terpal dan disambut tepuk tangan.

Jarak yang menjadi penghalang perlahan mencair. Akhirnya sebuah dialog tanpa beban status antara pemimpin dan rakyatnya pun terjadi. Tawa, celetukan warga, serta humor khas Rendra menjadikan malam di Wonorejo dihiasi harapan-harapan terang.

Bupati Malang menyapa langsung rakyatnya dalam dialog terbuka. Untuk mencairkan suasana dan menumbuhkan kedekatan, Rendra turun dari panggung dan menghampiri warga (Nana)

Sekitar satu jam, sihir Rendra telah membuat jarak lumer. Ratusan warga Wonorejo merasa sedang berbicara dengan 'bapaknya', bukan dengan bupati dalam konsep kekuasaan.

"Pak Rendra medit!,"kata Suningsih (47), warga RT/RW 04/03 Wonorejo, lalu tertawa lebar saat Rendra menstimulus warga dengan pertanyaan pengetahuan mengenai berapa jumlah pulau di Indonesia yang dijawab salah olehnya.

Tawa seketika meledak dari seluruh yang hadir. Rendra pun tertawa begitu lepas dan akhirnya menyerah dengan memberikan hadiah yang dijanjikan kepada Suningsih.

Walau acara berjalan dengan cair dan penuh gelak tawa, berbagai pesan pembangunan dalam menyukseskan tiga program besar Kabupaten Malang dengan piawai tersampaikan oleh Rendra.

Masalah infrastruktur jalan Desa Wonorejo yang akan diperlebar dalam mempermudah akses warga dalam beraktivitas, bedah rumah tidak layak huni, pentingnya pendidikan dan kesehatan, serta masalah buang air besar (BAB) sembarangan melalui bahasa rakyat tersampaikan dan disepakati keberlanjutannya secara mandiri.

Khusus mengenai open defecation free (ODF), Rendra meminta Kecamatan Singosari bisa mengikuti jejak Kecamatan Poncokusumo yang telah bebas BAB sembarangan. "Tahun 2019 ya Singosari sudah bebas BAB sembarangan,"pinta Rendra yang dijawab serentak oleh seluruh pemangku kepentingan, baik muspika maupun pemerintah desa, dengan mengatakan kesanggupannya.

Bahkan di malam itu (17/05) juga, seluruh yang hadir membacakan deklarasi bebas BAB sembarangan. "Singosari sudah hampir menggapai ODF. Jadi, saya yakin 2019 pasti tuntas,"ujar Rendra dalam acara Bina Desa yang juga dihadiri seluruh jajaran organisasi pemerintah daerah, wakapolres Malang, DPRD Kabupaten Malang, serta anggota DPR RI Komisi X Kresna Dewanata Phrosakh itu. (*)

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top