Pakar Psikologi : Maraknya Penculikan Anak Bukti Lemahnya Mental Generasi Sekarang

Ilustrasi (Istimewa)
Ilustrasi (Istimewa)

MALANGTIMES - Media sosial (medsos) saat ini menjadi momok mengerikan bagi orang tua, khususnya bagi mereka yang mempunyai anak-anak usia sekolah atau anak baru gede (ABG).

Hal itu bukan tanpa alasan, medsos selama ini banyak sekali menjadi faktor atau bahkan pintu awal terjadinya penculikan sehingga menyebabkan hilangnya seorang anak.

Salah satu kasus yang baru-baru ini terjadi di Malang adalah hilangnya salah satu anak warga Babadan, Desa Tegalgondo, Kecamatan Karangploso.

Mifta Khurotulaini (15) murid SMP Islam Hasanudin dikabarkan hilang sejak 10  Mei 2017 yang lalu dan dikabarkan dibawa seseorang yang ia kenal lewat media sosial.

Melihat hal itu, Psikolog  Universitas Merdeka Malang Al Thuba Septa SPsi MPsi mengatakan ada banyak faktor menjadi penyebab banyaknya hal negatif akibat penyalahgunaan media sosial.

Salah satunya adalah lemahnya mental generasi muda sekarang. Mereka rata-rata kurang siap menerima kemajuan teknologi. Diperparah lagi dengan lemahnya pengawasan dari orang tua.

Bagi generasi sekarang yang lahir pada era cyber, lanjutnya, akan lebih rentan menjadi korban era teknologi jika perkembangan arus informasi yang kian tak terkontrol ini belum diimbangi dengan kematangan emosi dalam mengelolanya.

"Ada yang bisa, namun tidak semuanya, terutama anak-anak. Nah kenapa anak-anak rentan terhadap hal itu? Kadang-kadang peran orang tua di sini juga patut dikritisi. Ada beberapa orang yang menyepelekan hal ini. Biar anaknya diam dan tidak rewel, orang tua memberinya gadget. Ini yang salah," ungkapnya.

"Sementara gadget itu kan menyenangkan untuk anak-anak.  Pada saat orang tua memberi gadget kepada anaknya, mereka tidak memikirkan akibat yang akan ditimbulkan. Jangan heran jika anak-anak mereka lemah mentalnya, " imbuhnya.

Hal ini tentu berbeda dengan anak zaman dulu. Untuk melakukan sesuatu mereka butuh perjuangan dan dituntut kreatif karena semua masih dalam suasana keterbatasan.

"Kalau sekarang semua dalam gengaman. Mereka menjadi nggak mau capek, beda dengan anak zaman dulu yang secara emosional lebih matang,"jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, generasi terdahulu juga lebih sadar terhadap resiko-resiko di sekitarnya. Beda dengan generasi sekarang.

Karena lemahnya pengelolaan emosi, pengawasan serta pemahaman tentang pemanfaatan teknologi yang salah, mereka sangat mudah terpengaruh dengan apa yang ia baca di media sosial.

"Ya akhirnya mentalnya lemah, terkena bujuk rayu sedikit sudah tergoda. Karena mereka tidak terbiasa waspada dengan resiko-resiko yang ada," pungkasnya.

Editor :
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top