ODHA Turen Alami Peningkatan 10 Persen

Tri Nurhudi Sasono, Ketua WPA Turen, menyatakan adanya trend peningakatan ODHA di wilayah dampingannya, Minggu (19/03) (Nana/MalangTIMES)
Tri Nurhudi Sasono, Ketua WPA Turen, menyatakan adanya trend peningakatan ODHA di wilayah dampingannya, Minggu (19/03) (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jumlah ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di Kabupaten Malang masih berada di posisi ke dua terbanyak di wilayah Jawa Timur (Jatim). 

Dari data Dinas Kesehatan, ODHA di Kabupaten Malang sebanyak 245 jiwa ditahun 2016. Sedangkan total pasien ODHA dalam beberapa tahun belakangan mencapai sekitar 1.500 orang.

Dari total tersebut, pasien ODHA tertinggi berada di empat kecamatan yang didominasi oleh warga Malang Selatan, yaitu Gondanglegi, Sumbermanjing Wetan (Sumawe), Sumberpucung dan Turen.

Di kecamatan Turen, menurut data Warga Peduli AIDS (WPA) Turen, sebuah komunitas peduli AIDS yang telah berdiri sejak tahun 2013, ODHA mengalami trend kenaikan dari tahun 2016 menuju tahun 2017.

Tercatat dalam data WPA, pasien ODHA Turen dari 46 orang di tahun lalu, kini menjadi 50 orang yang tersebar di 17 desa. Kondisi tersebut menempatkan Turen menjadi empat besar penyandang ODHA terbesar di Kab. Malang.

"Turen dan wilayah di Malang Selatan memang menjadi zona merah ODHA,"kata Tri Nurhudi Sasono, Ketua WPA Turen, Minggu (19/03).

Tri menyampaikan di wilayah dampingannya yang mencakup 17 desa di Kec. Turen, jumlah ODHA bisa saja bertambah dari jumlah yang kini terdata. Dia menyebutkan, permasalahan pengidap AIDS serupa gunung es yang hanya terlihat permukaannya saja.

"Kendalanya adalah warga atau yang kena AIDS kebanyakan tertutup atas penyakitnya. Biasanya mereka melapor setelah akut atau drops,"ujar Tri yang kini melakukan aktifitasnya tanpa dukungan Global Fund.

Kondisi inilah yang menurut Tri, khususnya di Turen dimungkinkan masih banyak warga yang terkena AIDS. 

Tingginya jumlah ODHA di Malang Selatan, tak terkecuali Turen disebabkan banyaknya warga yang bekerja diluar daerah atau menjadi TKI, adanya spot lokalisasi yang masih beroperasi, serta tempat remang-remang, baik cafe mauoun warung yang jadi kedok prostitusi.

"Di Turen korban AIDS didominasi Ibu Rumah Tangga yang suaminya kerja di luar kota atau jadi TKI. Jumlahnya adalah 45 orang. Mereka adalah korban dari hubungan seksual para suaminya selama bekerja,"terang Tri. Dia juga menyebutkan sisanya adalah karena jarum suntik sebanyak 3 orang dan anak-anak dari hasil hubungan orang tuanya yang mengindap virus HIV.

"Ada tiga anak yang terinfeksi, dua telah meninggal dan satunya masih dalam perawatan intensif,"imbuh Tri.

Satu anak yang masih bertahan berusia 6 tahun dan terus dalam pantauan WPA serta dinas terkait dalam pemberian obat antiretroviral atau ARV (obat yang bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat produksi HIV dalam tubuh, red) untuk meningkatkan kekebalan tubuh ODHA.

"Pemberian obat bagi ODHA wajib dilakukan dan harus rutin. Kalau pasien patuh, maka pengidap ODHA akan seperti orang normal,"ujar Tri yang juga menjelaskan bahwa hal ini telah diuji dan dibuktikan melalui Jurnal Ilmiah terhadap pasien yang telah 20 tahun mengindap HIV AIDS.

"Tetapi karena pasien itu patuh obat, usianya sampai 70 tahun sampai dia meninggal,"ucapnya yang juga menegaskan obat tersebut berfungsi menghambat perkembangan virus dalam tubuh pengindapnya.

Selain obat antiretroviral, Tri juga memakai metode ABC untuk menghindari virus yang sampai saat ini belum ada obat yang bisa membunuhnya. Metode ini adalah A = Abstinence, yaitu tidak berhubungan dengan orang lain selain pasangan. B = Be faithful berarti melakukan hubungan seks hanya dengan pasangan saja dan C = Condom artinya gunakan kondom saat berhubungan seks.

Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Angga .
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top