Bripka Sanda Prasetyo: Dari Kaum Difabel, Saya Belajar Hidup

Bripka. Sanda Prasetyo, Polisi teladan yang konsen terhadap keberadaan kaum difabel di wilayah Sumberpucung Kabupaten Malang, Jum
Bripka. Sanda Prasetyo, Polisi teladan yang konsen terhadap keberadaan kaum difabel di wilayah Sumberpucung Kabupaten Malang, Jum'at (17/02) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Parasnya terlihat letih walaupun semangatnya terasa menyala dan terasa bagi siapapun yang menyalaminya.

"Habis tugas malam, mas. Tetapi Insyaallah saya selalu siap melaksanakan tugas," ujar Bripka. Sanda Prasetyo, Anggota Polsek Sumberpucung yang mendapatkan penghargaan Polisi Teladan atas pengabdiannya dalam menangani kaum difabel, Jum'at (17/02).

Penghargaan yang diserahkan langsung oleh AKBP. Yade Setiawan Ujung, Kapolres Malang di Lapangan Makodim 0818 merupakan bentuk apresiasi Polres Malang terhadap anggota berprestasi yang akan terus dilakukan dalam memberi stimulus agar menjadi Polisi Profesional, Modern dan Terpercaya (Prometer) dalam masyarakat.

Sanda sebagai polisi difabel di wilayah Sumberpucung Kabupaten Malang menyatakan bahwa dirinya tidak pernah memiliki tujuan khusus dalam mendampingi kaum difabel hanya sekedar untuk mendapat penghargaan dari pimpinannya.

"Bukan karena hanya adanya program Award Kapolres yang membuat saya termotivasi, itu adalah efek, tetapi ini merupakan kewajiban siapapun dalam ikut serta membangun kesadaran masyarakat atas kaum difabel," ungkap Sanda kelahiran Blitar, 9 November 1981 ini.

Dia menyatakan keterlibatannya dengan kaum difabel di wilayah Sumberpucung dimulai sejak tahun 2014 saat mengikuti pertemuan di rumah Eka Wulandari, penyandang difabel di Jalan Pesantren Desa Karangkates RT. 39 RW.05 Kecamatan Sumberpucung yang dijadikan markas kaum difabel dengan nama Difabel Motorcycle Indonesia.

"Karena tugas saya sebagai Bhabinkamtibmas maka saya akhirnya mengetahui adanya komunitas difabel tersebut. Sejak pertemuan pertama, hati saya terasa teriris melihat kondisi dan perlakuan masyarakat terhadap mereka," tutur Sanda.

Ia pun menyampaikan ketakjubannya terhadap daya juang dan hidup mereka dengan kondisi tubuh (maaf) cacat. "Saya melihat semangat yang tinggi untuk hidup di mata mereka. Terus terang waktu itu saya malu terhadap diri sendiri," lirihnya. 

Dari pengalaman pertamanya bersinggungan dengan kaum difabel tersebut, dia akhirnya terjun mendampingi mereka dalam mendapatkan haknya sebagai manusia yang sederajat dengan yang lain.

Kini, sekitar 500 kaum difabel di wilayah Sumberpucung mulai bangkit dengan berbagai dukungan dari masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat maupun Pemerintah yang mulai membuka diri atas keberadaan mereka. Berbagai program pemberdayaan juga mulai banyak yang merangkul mereka untuk menjadi mandiri.

Sanda juga menceritakan perjuangan para difabel sangatlah berat dalam mendapatkan hak yang sama dengan manusia lainnya. Dalam pendidikan, misalnya, para difabel seringkali mendapat diskriminasi atas haknya.

"Contoh kaya Octavian Ramadhani (8) yang akhirnya setelah ditolak berkali-kali untuk sekolah umum, baru bisa bersekolah saat elemen masyarakat ikut bergerak," ujarnya yang juga mengkisahkan beratnya perjuangan Eka Wulandari (kini menjadi aktivis difabel dan pemateri sesama difabel) untuk bisa bersekolah.

"Sampai saat ini sekolah umum yang terbuka dan memiliki fasilitas bagi difabel hanya di Bedali Lawang," kata Sanda yang kini terus menggalang kekuatan dari berbagai elemen masyarakat. "Semakin banyak yang terlibat akan semakin baik dan menjadi kekuatan sosial bagi memperjuangkan hak para difabel," tegasnya.

Dia juga mengatakan dari merekalah yang kesannya kita yang membantu, kita terbantu dalam hal spirit bertahan hidup. "Saya mengambil banyak dari mereka, terutama semangatnya. Karena itu saya juga harus mengembalikannya lebih banyak,"pungkas Sanda.

Pewarta : Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
  • Polemik Dana Daftar Ulang di Sekolahan, Dewan Minta Lihat Regulasinya

    Banyaknya keluhan warga di beberapa kecamatan yang memiliki anak sekolahan setingkat SMP dan SMA di Kabupaten Malang mengenai adanya tarikan dana untuk daftar ulang atau registrasi dengan jumlah nominal berbeda, memantik Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ma

  • KIS Tidak Tepat Sasaran, Desa Bisa Ajukan Data Baru

    Pendataan dan distribusi Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Malang yang dilakukan oleh banyak pihak, bahkan oleh kader Partai Politik tertentu telah menyebabkan pelayanan kesehatan bagi warga miskin tidak bisa mengaksesnya.

  • Seni Drama Islam Kromengan Pernah Rajai Kabupaten Malang

    Kesenian drama atau sandiwara dengan konsep Islami pernah berjaya di dalam maupun luar Kabupaten Malang. Salah satunya yang bersinar adalah kelompok drama Lesbumi Kromengan yang hidup sejak tahun 1970-an dengan ciri khas syiar Islam dalam berbagai judul d

  • CEO Arema FC Anggap Arema Indonesia Manipulasi Saham

    Merebaknya banner bertuliskan "Satu Arema" bisa dimaknai keinginan Aremania menyatukan dua klub yang mempunyai nama hampir sama, yakni Arema FC dan Arema Indonesia.

  • Ini Hasil Penelusuran MalangTIMES Terhadap Toko Penjual Sajadah Bergambar Salib

    Untuk mencari keberadaan toko yang menjual sajadah bergambar salib, Jurnalis MALANGTIMES menyusuri jalan di sepanjang daerah Jalan Julius Usman, Sawahan sampai ke daerah Pasar Besar, Kota Malang.

  • Rekayasa Lalin Satu Arah, Benarkah Malang Nanti Tidak Macet Lagi?

    Kemacetan Malang kian parah dari tahun ke tahun hingga dinobatkan menjadi kota macet keempat di Asia tahun 2016, tentu harus segera ditanggani. Upaya memudar kemacetan itu salah satunya ialah melakukan rekayasa lalu lintas satu arah.

  • Heboh Sajadah Bersalib, Ini Klarifikasi Manajemen Mal Malang City Point

    Terkait sajadah bergambar Ka'bah yang di sampingnya terdapat menara dan di atas menara tergambar sebuah benda mirip salib di Mushala Mall Malang City Poin, pihak manajemen mall akhirnya memberikan klarifikasi terkait hal tersebut.

  • Aremania Tetap Mendukung Nama Arema FC

    Terbentangnya banner yang bertuliskan "Arema Satu" banyak beredar di Kota Malang, hal itu sempat membuat resah Aremania. Pasalnya dalam Kongres PSSI beberapa waktu lalu, menyatakan Arema Indonesia dipulihkan kembali menjadi anggota dari PSSI.

  • Wali Kota Malang: Mediasi Angkutan Juga Salah Satu Moment Pembenahan

    Survey yang menempatkan Kota Malang sebagai kota termacet urutan keempat se-Asia dengan waktu yang terbuang 39,3 jam/tahun mendapatkan tanggapan dari Wali Kota Malang HM. Anton.

  • Terkait Survey Kota Malang Termacet Keempat se- Asia, Kadishub: Jangan Percaya Survey Seperti Itu

    "Ya jangan mudah percaya dengan hal seperti itu, kan ini juga bisa saja datanya juga belum jelas dari mana. Bagaimana pengujiannya, bagaimana cara surveynya, karena itu jangan mudah percaya," tandasnya disela mediasi di Balaikota.

  • Masyarakat Malang Kehilangan 39,3 Jam Per Tahun Akibat Macet

    Lembaga survei internasional INRIX menobatkan Kota Malang sebagai kota termacet keempat di Asia karena rata-rata waktu terbuang akibat macet sebesar 39,3 jam pertahun. Fakta ini tak membuat pakar transportasi Prof. Harnen Sulistio, M.Sc, Ph.D terkejut.

  • Delapan Spanduk Provokatif Terkait Polemik Angkutan Online Diturunkan Satpol PP

    Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang telah mencopot adanya spanduk yang dinilai provokatif terkait polemik permasalahan angkutan online di Kota Malang, Senin (27/02/17).

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top