Biaya Kontribusi Air Wendit Cuma Naik Rp 20 Per Meter Kubik Selama 20 Tahun

Direktur PDAM Kabupaten Malang Syamsul Hadi menyarankan adanya peningkatan biaya kontribusi air Wendit dari harga terakhir, yaitu Rp 80/m kubik, Jum
Direktur PDAM Kabupaten Malang Syamsul Hadi menyarankan adanya peningkatan biaya kontribusi air Wendit dari harga terakhir, yaitu Rp 80/m kubik, Jum'at (17/02). (Nana)

MALANGTIMES -  Perjanjian pemakaian sumber air Wendit yang dimiliki Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Malang selama 20 tahun terakhir ini hanya mengalami kenaikan Rp 20 per meter kubik. 

Padahal PDAM Kota Malang menjual air Wendit ke konsumen dengan harga Rp 2.800 sampai Rp 3.500 per meter kubik, seperti yang disampaikan Didik Gatot Subroto, anggota Komisi A DPRD Kabupaten Malang (14/02). Baca Juga : (Dinilai Rugikan PAD, Dewan Minta Pemkab Hentikan Kerja Sama Air Wendit dengan Pemkot Malang, (14/02)).

Kenaikan biaya kontribusi sumber air Wendit inilah yang dirasa DPRD Kabupaten Malang sangat merugikan bagi penerimaan asli daerah (PAD) karena adanya selisih begitu besar dari harga jual yang dikelola PDAM Kota Malang.

Menurut Syamsul Hadi, direktur PDAM Kabupaten Malang, pernyataan DPRD tersebut memang relevan dan bisa ditindaklanjuti oleh dinas terkait yang menangani secara teknis masalah perjanjian sumber air tersebut.

"Sejak 20 tahun lalu, hanya ada tiga kali kenaikan biaya kontribusi sumber air Wendit dengan jumlah per kenaikan Rp 20 per meter kubik," kata Syamsul. Dia menambahkan, awal biaya kontribusi per meter kubik air dari PDAM Kota Malang adalah Rp 40, Rp 60, dan Rp 80. 

Dengan asumsi tarif air bersifat dinamis dan berubah, biaya kontribusi sumber air Wendit bisa ditingkatkan dengan harga wajar dari harga sekarang, yaitu Rp 80 per meter kubik.

"Walaupun perjanjian antara bupati Malang dan wali kota Malang berisi biaya kontribusi untuk konservasi sumber mata air Wendit bukan jual air curah, tetapi saya pikir relevan kalau ada peningkatan di tahun ini," ujar Syamsul.

Kerja sama tersebut sebenarnya di tahun 2016 wajib ada tinjau ulang isi perjanjian. Tetapi karena masih dalam proses adendum, kedua belah pihak belum bisa melakukan perubahan-perubahan yang akan disepakati.

"Maka instansi terkait, yaitu sumber daya air (SDA), yang harus proaktif kalau memang akan ada perubahan perjanjian dalam biaya kontribusi ini, sekaligus melakukan kaji ulang," kata Syamsul. Dia berharap nantinya perjanjian ini bisa berlanjut dengan adanya peningkatan biaya kontribusi untuk Pemkab Malang.

Mengenai berapa jumlah biaya kontribusi untuk konservasi sumber air Wendit, Syamsul tidak bisa menyebut nominalnya. "Untuk hal itu bukan ranah kami, tapi SDA serta pihak PDAM Kota Malang saat nanti melakukan perundingan atas review tarif, sistem pembacaan air maupun lainnya," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kadis PU SDA (Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air) Moh. Anwar saat ditanya tentang hal kerja sama air Wendit tersebut menyatakan bukan ranahnya. "Silakan tanya ke PDAM kalau masalah itu, Mas," jawabnya singkat. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : debyawan erlansyah
  • Polemik Dana Daftar Ulang di Sekolahan, Dewan Minta Lihat Regulasinya

    Banyaknya keluhan warga di beberapa kecamatan yang memiliki anak sekolahan setingkat SMP dan SMA di Kabupaten Malang mengenai adanya tarikan dana untuk daftar ulang atau registrasi dengan jumlah nominal berbeda, memantik Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ma

  • KIS Tidak Tepat Sasaran, Desa Bisa Ajukan Data Baru

    Pendataan dan distribusi Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Malang yang dilakukan oleh banyak pihak, bahkan oleh kader Partai Politik tertentu telah menyebabkan pelayanan kesehatan bagi warga miskin tidak bisa mengaksesnya.

  • Seni Drama Islam Kromengan Pernah Rajai Kabupaten Malang

    Kesenian drama atau sandiwara dengan konsep Islami pernah berjaya di dalam maupun luar Kabupaten Malang. Salah satunya yang bersinar adalah kelompok drama Lesbumi Kromengan yang hidup sejak tahun 1970-an dengan ciri khas syiar Islam dalam berbagai judul d

  • CEO Arema FC Anggap Arema Indonesia Manipulasi Saham

    Merebaknya banner bertuliskan "Satu Arema" bisa dimaknai keinginan Aremania menyatukan dua klub yang mempunyai nama hampir sama, yakni Arema FC dan Arema Indonesia.

  • Ini Hasil Penelusuran MalangTIMES Terhadap Toko Penjual Sajadah Bergambar Salib

    Untuk mencari keberadaan toko yang menjual sajadah bergambar salib, Jurnalis MALANGTIMES menyusuri jalan di sepanjang daerah Jalan Julius Usman, Sawahan sampai ke daerah Pasar Besar, Kota Malang.

  • Rekayasa Lalin Satu Arah, Benarkah Malang Nanti Tidak Macet Lagi?

    Kemacetan Malang kian parah dari tahun ke tahun hingga dinobatkan menjadi kota macet keempat di Asia tahun 2016, tentu harus segera ditanggani. Upaya memudar kemacetan itu salah satunya ialah melakukan rekayasa lalu lintas satu arah.

  • Heboh Sajadah Bersalib, Ini Klarifikasi Manajemen Mal Malang City Point

    Terkait sajadah bergambar Ka'bah yang di sampingnya terdapat menara dan di atas menara tergambar sebuah benda mirip salib di Mushala Mall Malang City Poin, pihak manajemen mall akhirnya memberikan klarifikasi terkait hal tersebut.

  • Aremania Tetap Mendukung Nama Arema FC

    Terbentangnya banner yang bertuliskan "Arema Satu" banyak beredar di Kota Malang, hal itu sempat membuat resah Aremania. Pasalnya dalam Kongres PSSI beberapa waktu lalu, menyatakan Arema Indonesia dipulihkan kembali menjadi anggota dari PSSI.

  • Wali Kota Malang: Mediasi Angkutan Juga Salah Satu Moment Pembenahan

    Survey yang menempatkan Kota Malang sebagai kota termacet urutan keempat se-Asia dengan waktu yang terbuang 39,3 jam/tahun mendapatkan tanggapan dari Wali Kota Malang HM. Anton.

  • Terkait Survey Kota Malang Termacet Keempat se- Asia, Kadishub: Jangan Percaya Survey Seperti Itu

    "Ya jangan mudah percaya dengan hal seperti itu, kan ini juga bisa saja datanya juga belum jelas dari mana. Bagaimana pengujiannya, bagaimana cara surveynya, karena itu jangan mudah percaya," tandasnya disela mediasi di Balaikota.

  • Masyarakat Malang Kehilangan 39,3 Jam Per Tahun Akibat Macet

    Lembaga survei internasional INRIX menobatkan Kota Malang sebagai kota termacet keempat di Asia karena rata-rata waktu terbuang akibat macet sebesar 39,3 jam pertahun. Fakta ini tak membuat pakar transportasi Prof. Harnen Sulistio, M.Sc, Ph.D terkejut.

  • Delapan Spanduk Provokatif Terkait Polemik Angkutan Online Diturunkan Satpol PP

    Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang telah mencopot adanya spanduk yang dinilai provokatif terkait polemik permasalahan angkutan online di Kota Malang, Senin (27/02/17).

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top