500 Ekor Baby Lobster Setiap Hari Dibeli, Dikirim Kemana?

Suasana Press Release Polres Malang di Lapangan Tenis Mapolres Malang yang menghadirkan para terdakwa dan barang bukti kejahatan, salah satunya adalah perdagangan Baby Lobster, Rabu (15/02) (Nana/MalangTIMES)
Suasana Press Release Polres Malang di Lapangan Tenis Mapolres Malang yang menghadirkan para terdakwa dan barang bukti kejahatan, salah satunya adalah perdagangan Baby Lobster, Rabu (15/02) (Nana/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Terkuaknya perdagangan ilegal ribuan ekor Baby Lobster oleh Kepolisian Resort (Polres) Malang dalam dua kali penangkapan para pelakunya (3-4 Februari 2017) di wilayah Tirtoyudo, mengindikasikan maraknya tindak pidana tersebut.

Dalam dua hari penangkapan terjaring 1851 ekor Baby Lobster, sedangkan menurut pengakuan para tersangka bahwa perdagangan ilegal ini sudah dilakukan sejak Desember 2016 dengan setiap hari transaksi bisa mencapai 500 ekor.

"Per hari 500 ekor yang kami beli dari nelayan di Pantai Wediawu. Kami dibayar Rp 300 ribu sampai Rp. 400 ribu sekali kirim. Kami sekadar kurir saja, mas," kata HWS, Rabu (15/02) saat acara Release Polres tentang Tindak Pidana Perdagangan Ilegal Baby Lobster dan Narkoba di Lapangan Tenis Mapolres Malang.

Senada dengan pengakuan tersebut, AS yang bertindak sebagai kurir dan pembayar Baby Lobster hasil tangkapan nelayan mengatakan walaupun tidak setiap hari mereka mendatangi lokasi penangkapan, sekali transaksi mereka selalu membawa sebanyak 500 ekor. "Paling sedikit 100 ekor Baby Lobster,"katanya.

Saat ditanya dikirim kemana Baby Lobster tersebut, dua tersangka yang berdomisili di Kota Malang menyatakan tidak mengetahuinya secara pasti.

"Setiap order via telepon, tugas kami hanya mengambil saja ke nelayan. Uangnya lalu dititipkan pada kami,"ujar HWS yang menyebutkan dia disuruh oleh Wawan yang beralamat di Desa Jajag Kecamatan Jajag Kabupaten Banyuwangi.

Selain AS dan HWS ternyata di lokasi yang sama ada dua kurir Baby Lobster lainnya yang berinisial SKT dan SGT yang ditangkap kepolisian saat membawa 1600 ekor Baby Lobster di pinggir jalan Desa Sumbertangkil.

"Kami hanya disuruh oleh pemilik uang dan pengepul Baby Lobster yaitu DCK dan ACP (keduanya dicokok kepolisian di Dampit, red). Masalah akan dibawa kemananya lagi saya tidak tahu,"kata SKT yang diiyakan juga oleh SGT.

Dalam melakukan tugasnya mereka bergantian atau memiliki jadual berbeda setiap harinya. Terkadang membawa sepeda motor maupun mobil pick up.

Saat pengambilan dan mengantar Baby Lobster, mereka juga mengatakan tidak pernah sembunyi-sembunyi untuk menghindari polisi.

Hal ini terbukti saat penangkapan keempat kurir ini terjadi di pagi dan siang hari. "Kami jalan biasa saja saat membawa hasil pembelian Baby Lobster. Jadi, tidak sembunyi-sembunyi,"kata SGT.

Dikesempatan yang sama, Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung mengatakan bahwa indikasi adanya jaringan perdagangan Baby Lobster dimungkinkan terjadi. Mengenai lokasi pasar yang menampungnya masih dalam proses penyelidikan.

"Kita akan terus kembangkan penyelidikan tentang hal ini,"tegasnya.

Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
  • Polemik Dana Daftar Ulang di Sekolahan, Dewan Minta Lihat Regulasinya

    Banyaknya keluhan warga di beberapa kecamatan yang memiliki anak sekolahan setingkat SMP dan SMA di Kabupaten Malang mengenai adanya tarikan dana untuk daftar ulang atau registrasi dengan jumlah nominal berbeda, memantik Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ma

  • KIS Tidak Tepat Sasaran, Desa Bisa Ajukan Data Baru

    Pendataan dan distribusi Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Malang yang dilakukan oleh banyak pihak, bahkan oleh kader Partai Politik tertentu telah menyebabkan pelayanan kesehatan bagi warga miskin tidak bisa mengaksesnya.

  • Seni Drama Islam Kromengan Pernah Rajai Kabupaten Malang

    Kesenian drama atau sandiwara dengan konsep Islami pernah berjaya di dalam maupun luar Kabupaten Malang. Salah satunya yang bersinar adalah kelompok drama Lesbumi Kromengan yang hidup sejak tahun 1970-an dengan ciri khas syiar Islam dalam berbagai judul d

  • CEO Arema FC Anggap Arema Indonesia Manipulasi Saham

    Merebaknya banner bertuliskan "Satu Arema" bisa dimaknai keinginan Aremania menyatukan dua klub yang mempunyai nama hampir sama, yakni Arema FC dan Arema Indonesia.

  • Ini Hasil Penelusuran MalangTIMES Terhadap Toko Penjual Sajadah Bergambar Salib

    Untuk mencari keberadaan toko yang menjual sajadah bergambar salib, Jurnalis MALANGTIMES menyusuri jalan di sepanjang daerah Jalan Julius Usman, Sawahan sampai ke daerah Pasar Besar, Kota Malang.

  • Rekayasa Lalin Satu Arah, Benarkah Malang Nanti Tidak Macet Lagi?

    Kemacetan Malang kian parah dari tahun ke tahun hingga dinobatkan menjadi kota macet keempat di Asia tahun 2016, tentu harus segera ditanggani. Upaya memudar kemacetan itu salah satunya ialah melakukan rekayasa lalu lintas satu arah.

  • Heboh Sajadah Bersalib, Ini Klarifikasi Manajemen Mal Malang City Point

    Terkait sajadah bergambar Ka'bah yang di sampingnya terdapat menara dan di atas menara tergambar sebuah benda mirip salib di Mushala Mall Malang City Poin, pihak manajemen mall akhirnya memberikan klarifikasi terkait hal tersebut.

  • Aremania Tetap Mendukung Nama Arema FC

    Terbentangnya banner yang bertuliskan "Arema Satu" banyak beredar di Kota Malang, hal itu sempat membuat resah Aremania. Pasalnya dalam Kongres PSSI beberapa waktu lalu, menyatakan Arema Indonesia dipulihkan kembali menjadi anggota dari PSSI.

  • Wali Kota Malang: Mediasi Angkutan Juga Salah Satu Moment Pembenahan

    Survey yang menempatkan Kota Malang sebagai kota termacet urutan keempat se-Asia dengan waktu yang terbuang 39,3 jam/tahun mendapatkan tanggapan dari Wali Kota Malang HM. Anton.

  • Terkait Survey Kota Malang Termacet Keempat se- Asia, Kadishub: Jangan Percaya Survey Seperti Itu

    "Ya jangan mudah percaya dengan hal seperti itu, kan ini juga bisa saja datanya juga belum jelas dari mana. Bagaimana pengujiannya, bagaimana cara surveynya, karena itu jangan mudah percaya," tandasnya disela mediasi di Balaikota.

  • Masyarakat Malang Kehilangan 39,3 Jam Per Tahun Akibat Macet

    Lembaga survei internasional INRIX menobatkan Kota Malang sebagai kota termacet keempat di Asia karena rata-rata waktu terbuang akibat macet sebesar 39,3 jam pertahun. Fakta ini tak membuat pakar transportasi Prof. Harnen Sulistio, M.Sc, Ph.D terkejut.

  • Delapan Spanduk Provokatif Terkait Polemik Angkutan Online Diturunkan Satpol PP

    Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang telah mencopot adanya spanduk yang dinilai provokatif terkait polemik permasalahan angkutan online di Kota Malang, Senin (27/02/17).

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top