Manfaatkan Nelayan, Pengepul Hargai 1 Ekor Baby Lobster 5 Ribu Rupiah

Nelayan Baby lobster (bermasker) berinisal RN mengaku tidak mengetahui bahwa tangkapannya adalah hewan yang dilindungi negara, Rabu (15/02) (Nana)
Nelayan Baby lobster (bermasker) berinisal RN mengaku tidak mengetahui bahwa tangkapannya adalah hewan yang dilindungi negara, Rabu (15/02) (Nana)

MALANGTIMES - Para pengepul Baby Lobster memanfaatkan nelayan yang tidak mengetahui bahwa melakukan penangkapan atas hewan tersebut dapat dipidana kurungan dan denda miliaran rupiah, dalam mengumpulkan dan menjualnya kembali ke pasaran.

Hal ini disampaikan salah satu tersangka RN yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan di Pantai Wediawu Dusun Balearjo Desa Purwodadi Kecamatan Tirtoyudo, saat diwawancarai dalam acara Release Polres Malang, Rabu (15/2/2017).

"Saya tidak tahu kalau menangkap dan menjual Baby Lobster ini bisa dikurung polisi,"kata RN yang mengaku baru tiga bulan ini dia aktif memancing baby lobster. 

Dia juga menyatakan awal ketertarikannya menangkap Baby Lobster karena banyak orang yang mencarinya.

"Saya mulai sejak Bulan Oktober nangkap benur (Baby Lobster),"imbuhnya sambil menundukkan kepala.

Selama kurun waktu tiga bulan, RN hanya melaut sekitar 20 kali untuk mendapatkan Baby Lobster yang dihargai oleh pengepul yang datang kelokasi senilai Rp. 5.000 per ekor dengan jenis lobster pasir atau biasa.

"Biasanya sehari saya dapat sekitar 40 sampai 50 ekor benur. Pembeli datang sendiri. Harganya cukup tinggi dan banyak yang cari sedangkan alat tangkapnya sederhana,"ujarnya yang mengatakan dalam menangkap Baby Lobster dia menggunakan peralatan sederhana dari bahan serabut kelapa, aren dan tapas kelapa yang diikat menjadi satu dengan tali tampar dan berpola bintang.

"Setelah selesai saya bawa ke tengah laut dengan jarak sekitar 600 meter dari bibir pantai,"lanjut RN yang melanjutkan alat tersebut langsung dimasukkan ke laut dengan kedalamam sekitar 45 meter dan diberi lampu genset.

"Setelah itu tinggal menunggu benur masuk atau terjerat dalam alat yang saya buat,"imbuhnya.

Hasil tangkapan RN dijual kepada kurir yang datang ke rumahnya yaitu AS. Dia menyatakan saat terjadi penangkapan hanya menjual 32 ekor Baby Lobster saja, sedangkan lainnya dibeli dari beberapa nelayan di Pantai Wediawu.

"Belinya AS dan HWS di rumah saya. Jumlah benur yang diamankan polisi selain dari saya juga dari nelayan lain yang juga tidak mengetahui bahwa penangkapan ini dilarang," sesal AR yang dijerat dengan pidana kurungan paling lama enam tahun dan denda paling banyak 1,5 miliar ini.

Pewarta : Nana
Editor : Heryanto
Publisher : Raafi Prapandha
  • Polemik Dana Daftar Ulang di Sekolahan, Dewan Minta Lihat Regulasinya

    Banyaknya keluhan warga di beberapa kecamatan yang memiliki anak sekolahan setingkat SMP dan SMA di Kabupaten Malang mengenai adanya tarikan dana untuk daftar ulang atau registrasi dengan jumlah nominal berbeda, memantik Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Ma

  • KIS Tidak Tepat Sasaran, Desa Bisa Ajukan Data Baru

    Pendataan dan distribusi Kartu Indonesia Sehat (KIS) di Kabupaten Malang yang dilakukan oleh banyak pihak, bahkan oleh kader Partai Politik tertentu telah menyebabkan pelayanan kesehatan bagi warga miskin tidak bisa mengaksesnya.

  • Seni Drama Islam Kromengan Pernah Rajai Kabupaten Malang

    Kesenian drama atau sandiwara dengan konsep Islami pernah berjaya di dalam maupun luar Kabupaten Malang. Salah satunya yang bersinar adalah kelompok drama Lesbumi Kromengan yang hidup sejak tahun 1970-an dengan ciri khas syiar Islam dalam berbagai judul d

  • CEO Arema FC Anggap Arema Indonesia Manipulasi Saham

    Merebaknya banner bertuliskan "Satu Arema" bisa dimaknai keinginan Aremania menyatukan dua klub yang mempunyai nama hampir sama, yakni Arema FC dan Arema Indonesia.

  • Ini Hasil Penelusuran MalangTIMES Terhadap Toko Penjual Sajadah Bergambar Salib

    Untuk mencari keberadaan toko yang menjual sajadah bergambar salib, Jurnalis MALANGTIMES menyusuri jalan di sepanjang daerah Jalan Julius Usman, Sawahan sampai ke daerah Pasar Besar, Kota Malang.

  • Rekayasa Lalin Satu Arah, Benarkah Malang Nanti Tidak Macet Lagi?

    Kemacetan Malang kian parah dari tahun ke tahun hingga dinobatkan menjadi kota macet keempat di Asia tahun 2016, tentu harus segera ditanggani. Upaya memudar kemacetan itu salah satunya ialah melakukan rekayasa lalu lintas satu arah.

  • Heboh Sajadah Bersalib, Ini Klarifikasi Manajemen Mal Malang City Point

    Terkait sajadah bergambar Ka'bah yang di sampingnya terdapat menara dan di atas menara tergambar sebuah benda mirip salib di Mushala Mall Malang City Poin, pihak manajemen mall akhirnya memberikan klarifikasi terkait hal tersebut.

  • Aremania Tetap Mendukung Nama Arema FC

    Terbentangnya banner yang bertuliskan "Arema Satu" banyak beredar di Kota Malang, hal itu sempat membuat resah Aremania. Pasalnya dalam Kongres PSSI beberapa waktu lalu, menyatakan Arema Indonesia dipulihkan kembali menjadi anggota dari PSSI.

  • Wali Kota Malang: Mediasi Angkutan Juga Salah Satu Moment Pembenahan

    Survey yang menempatkan Kota Malang sebagai kota termacet urutan keempat se-Asia dengan waktu yang terbuang 39,3 jam/tahun mendapatkan tanggapan dari Wali Kota Malang HM. Anton.

  • Terkait Survey Kota Malang Termacet Keempat se- Asia, Kadishub: Jangan Percaya Survey Seperti Itu

    "Ya jangan mudah percaya dengan hal seperti itu, kan ini juga bisa saja datanya juga belum jelas dari mana. Bagaimana pengujiannya, bagaimana cara surveynya, karena itu jangan mudah percaya," tandasnya disela mediasi di Balaikota.

  • Masyarakat Malang Kehilangan 39,3 Jam Per Tahun Akibat Macet

    Lembaga survei internasional INRIX menobatkan Kota Malang sebagai kota termacet keempat di Asia karena rata-rata waktu terbuang akibat macet sebesar 39,3 jam pertahun. Fakta ini tak membuat pakar transportasi Prof. Harnen Sulistio, M.Sc, Ph.D terkejut.

  • Delapan Spanduk Provokatif Terkait Polemik Angkutan Online Diturunkan Satpol PP

    Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Malang telah mencopot adanya spanduk yang dinilai provokatif terkait polemik permasalahan angkutan online di Kota Malang, Senin (27/02/17).

Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top