Mengenang Ngeek...Ngook Suara Rebab Penjual Gulali Khas Malangan

Penjual gulali arbanat (foto @imgrum for MALANGTIMES)
Penjual gulali arbanat (foto @imgrum for MALANGTIMES)

MALANGTIMES - "Jika hidup tidak semanis gulali, tersenyumlah, kini dan nanti." Begitulah tulis akun instagram @imgrum penyuka gulali.

Tentunya Anda yang dilahirkan sekitar tahun 1970-an mengenal dan pernah akrab dengan jajan tradisional gulali yang kini keberadaannya bisa dihitung dengan jemari, kalau tidak dibilang mati.

Gulali adalah makanan serba gula dengan bahan utama dan satu-satunya. Gula pasir dilelehkan dalam wajan besar dan kemudian dijual menggunakan wajan kecil, dibawa berkeliling dengan pikulan. Dulu, banyak penjual gulali yang kerap melengkapi dirinya dengan alat rebab.

"Dulu rebab dan gulali tidak bisa dipisahkan. Suara ngeek.. ngoook rebab yang digesek sudah jadi ciri penjual gulali di kampung-kampung,"kata Misiyan (70), penjual gulali asal Pakis, Kabupaten Malang, yang hanya berjualan saat ada kegiatan masal, Minggu (08/01).

Suara ngeek... ngook rebab penjual gulali yang berkeliling kampung dan aroma gula yang dimasak kini tinggal kenangan. Sangat jarang ditemui penjual gulali, apalagi yang menggunakan rebab. "Sudah tidak ada penjual gulali seperti itu sekarang. Sekarang pakai mesin semua cara buat gulali,"kata Ningrum (18), penyuka gulali asal Pakis yang kini menyukai gulali rambut nenek atau sekarang dikenal dengan arbanat atau "fairy floss (benang peri)".

Menurut Ningrum, setahu dirinya, sudah tidak ada juga penjual gulali pakai pikulan dan yang bentuk gulalinya berupa burung, peluit, pesawat terbang, dan lainnya.

Kenangan atas ngeek.. ngook penjual gulali ternyata memiliki sejarah panjang, yaitu sebelum tahun 1940 di Kabupaten Malang yang mayoritas penduduknya adalah petani tebu.

Bahkan menurut  literatur yang MALANGTIMES telusuri dari buku "Spun Heaven" karya Bruce Feiler, Gourmet, keberadaan mesin gulali pertama diperkenalkan pada 1904 oleh William Morrison dan John C Wharton di St. Louis World's Fair dengan nama "fairy floss (benang peri)".

Mesin gulali modern yang sekarang masih ditemui pola kerjanya sama dengan mesin-mesin lama yang diciptakan William Morrison dan John C Wharton dulu. 

Bagian tengah mesin itu terdiri atas sebuah wadah kecil. Ke dalamnya dimasukkan gula dan pewarna makanan. Pemanas dekat tepian wadah itu mencairkan gulanya, yang kemudian diputar melalui lubang-lubang kecil dan hasilnya dipadatkan oleh udara. 

Kemudian benang-benang itu dikumpulkan pada sebuah wadah logam yang besar. Operator mesin memutar-mutar sepotong kayu kecil atau sebuah kerucut karton (orang yang lebih berpengalaman biasanya menggunakan tangan mereka sendiri) sekeliling tepian wadah besar penangkap gulali untuk mengumpulkannya. (*)

Pewarta : Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top