Tjut Meutia Pahlawan Sekaligus Sosok Ibu, Satu-satunya Perempuan yang Diabadikan pada Mata Uang Baru

Gambar Tjut Meutia dalam uang baru Rp 1000 (Istimewa)
Gambar Tjut Meutia dalam uang baru Rp 1000 (Istimewa)

MALANGTIMES - Dari 12 pahlawan nasional yang diabadikan dalam uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) baru, ada satu pahlawan wanita yang diabadikan pada gambar muka uang rupiah kertas.
Sang pahlawan perempuan yang juga seorang ibu itu ialah Tjut Meutia, srikandi asal Aceh yang lahir di Pirak, Aceh Utara, sekitar tahun 1870.
Pemilihan Tjut Meutia, ibu dari seorang anak laki-laki bernama Teuku Raja Sabi ini oleh Bank Indonesia sebagai salah satu pahlawan nasional yang diabadikan dalam uang baru berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964.
Mengenai penetapan gambar Tjut Meutia tertuang dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/33/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Pecahan 1.000 (Seribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 217).
Selain itu, BI juga telah mengeluarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 18/38/PBI/2016, tanggal 26 Oktober 2016, tentang Pengeluaran Uang Rupiah Kertas Bersambung Pecahan 1.000 (Seribu) Tahun Emisi 2016 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 222).
Diabadikannya gambar Tjut Meutia dalam uang pecahan Rp. 1000, ternyata menimbulkan polemik di media sosial Twitter sampai ke ranah hukum. Gegara cuitan @estiningsihdwi yang menuliskan "Cut Meutia, ahli agama & ahli strategi. Bukan ahli agama bila tak menutup aurat #lelah," tulisnya yang mengomentari gambar Tjut Meutia tanpa jilban.
Bahkan di medsos beredar pesan berantai gambar Cut Meutia lebih mirip seorang pengusaha roti ternama yang juga lagi ramai diperbincangkan.
Lepas dari segala polemik tersebut, tidak ada yang menyangkal pahlawan yang juga seorang ibu ini adalah pejuang sejati Indonesia.
Bersama suaminya, Teuku Tjik Tunong, Tjut Meutia melakukan perlawanan terhadap Belanda. Bahkan saat suaminya ditangkap Belanda dan dihukum mati di tepi pantai Lhokseumawe di bulan maret 1905, Tjut Meutia terus melawan penjajah.
Sambil merawat anaknya, Tjut Meutia bersama Pang Nagroe yang dimanatkan Tjik Tunong sebelum meninggal untuk menikahi istrinya, semakin gigih melakukan perlawanan.
Pada tanggal 24 Oktober 1910, Tjut Meutia bersama pasukannya bentrok dengan korps Marechausée di Alue Kurieng. Dalam peristiwa itu, Tjut Meutia gugur.

Pewarta : Dede Nana
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abdul Rahman
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top