Ingin Melihat Keaslian Budaya Lokal? Datanglah ke Pantai Ngliyep

Pelaksanaan Larung Sesaji Labuhan Gunung Kombang di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam, Kabupaten Malang (Foto: Rulli Novianto/ MalangTIMES)
Pelaksanaan Larung Sesaji Labuhan Gunung Kombang di Pantai Ngliyep Desa Kedungsalam, Kabupaten Malang (Foto: Rulli Novianto/ MalangTIMES)

Pantai bukan hanya menjadi tempat yang cocok untuk melepas kepenatan. Selain menawarkan pemandangan sun set dan sun rise, pantai juga menyimpan banyak sejarah budaya yang terjaga keasliannya secara turun temurun.

Salah satu pantai yang masih terjaga keaslian budayanya adalah Pantai Ngliyep, yang lokasinya berada di wilayah Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang. Masyarakat setempat masih memegang teguh budaya lokal warisan leluhur.

Salah satu buktinya adalah pelaksanaan upacara sakral Larung Sesaji Labuhan Gunung Kombang, yang berlangsung kemarin, Rabu (14/12/2016). Menurut pemuka adat Desa sekaligus ketua Pelestari Budaga Purwolaras, Kedungsalam, Samiin Purwanto, pelaksanaan Larung Sesaji telah berlangsung selama 108 tahun, dan masyarakat meyakini bahwa upacara tersebut membawa berkah bagi alam dan manusia.

"Larung Sesaji ini sudah menjadi tradisi untuk memperoleh keberkahan dari yang kuasa," jelas pria yang akrab disapa Samin ini. Samin menambahkan, bahwa Larung Sesaji memiliki rangkaian upacara yang berlangsung selama 2 hari, hari pertama, Selasa (13/12/16), para pemuka adat melaksanakan ritual semedi malam hari di Rumah Lumbung Desa Kedungsalam.

Selain semedi, para pemuka adat juga menyiapkan sesaji berupa kepala kambing, sate kambing, dan beberapa hasil bumi. Ada yang unik dalam kegiatan tersebut, bahwa wanita tidak diperbolehkan menyiapkan sesaji, jadi hanya kaum pria yang diberi kewenangan mempersiapkan bahan sesaji.

"Sudah menjadi kepercayaan turun temurun, bahwa wanita tidak bisa dilibatkan untuk mempersiapkan sesaji di Rumah Lumbung," imbuh Samiin. Selain semedi dan mempersiapkan sesaji, PD Jasa Yasa selaku pengelola Pantai Ngliyep juga menggelar pentas wayang yang dihadiri ribuan pengunjung.

Di hari H pelaksanaan, Rabu (14/12/16), jelang Larung Sesaji Labuhan Gunung Kombang, pemuka adat mengawalinya dengan ritual Gedruk Alu sebagai tanda pelepasan arak - arakan rombongan pemikul sesaji, dengan rute pemberangkatan Balai Pertemuan Pantai Ngliyep menuju Gunung Kombang.

Tidak sedikit wisatawan domestik dan asing yang tertarik melihat dari dekat prosesi Larung Sesaji, puluhan ribu orang pun memadati Gunung Kombang untuk mengabadikan prosesi persembahan sesaji ke laut. Salah satu wisatawan asing asal Perancis, Iris, mengaku senang melihat upacara Larung Sesaji. Menurutnya, Indonesia menyimpang keunikan budaya yang tidak dapat dijumpai di negaranya.

"Hebat, masyarakat di sini masih memiliki komitmen melestarikan budaya yang tidak dimiliki negara lain," jelas Iris kepada MALANGTIMES. Plt Direktur Utama PD Jasa Yasa, Dwi Hari Cahyo, mengatakan, bahwa hadirnya wisatawan asing dalam kegiatan Larung Sesaji menjadi tolak ukur keberhasilan masyarakat di sekitar Pantai Ngliyep untuk terlibat aktif mempromosikan pariwisata daerah.

Sementara itu, Direktur Bisnis PD Jasa Yasa, Faiz Wildan, berkomentar, bahwa pelaksanaan Larung Sesaji dapat mendongkrak jumlah wisatawan. Ia pun berkomitmen akan terus berupaya memenuhi fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pengunjung, termasuk mengupgrade kemampuan pemandu agar dapat mendampingi wisatawan memperoleh informasi dan edukasi tentang keberadaan Pantai Ngliyep.

Sebab menurutnya, Pantai yang memiliki puluhan cottage ini menyimpan banyak sejarah budaya yang belum diketahui masyarakat luas. "Ngliyep memiliki budaya yang harus ditransfer kepada pengunjung, sebab budaya di sini mengajarkan manusia untuk menjaga dan melestarikan alam, jadi selain menikmati alam, pengunjung juga memperoleh edukasi berbasis budaya lokal," jelas Wildan.

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Raafi Prapandha
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top