Budaya Literasi Digital Rendah, Bersiap Memasuki Madness Society

 Ilustrasi Literasi Digital Kita saat ini (istimewa)
Ilustrasi Literasi Digital Kita saat ini (istimewa)

JATIMTIMES, MALANG - Warga Indonesia merupakan salah satu pengguna aplikasi terbesar di dunia, baik Facebook maupun Twitter. Dari lebih 2,3 miliar penduduk bumi yang memakai media sosial (medsos) ini, Indonesia menduduki urutan ke-empat pengguna Facebook dan ketiga pengguna Twitter.
Hal tersebut merupakan data dari Digital in 2016, We Are Social yang menyatakan bahwa pengguna medsos aktif di Indonesia sejumlah 79 juta orang (30 persen penduduk) dan pengakses melalui ponsel 66 juta (25 persen penduduk).


Banyaknya pengguna medsos di Indonesia telah menciptakan semacam “budaya” literasi digital yang tentunya memiliki efek secara langsung dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Dari budaya bertutur (bercerita) beralih kepada budaya literasi digital, tentunya akan terjadi "geger budaya". Kondisi ini telah terjadi belakangan ini di berbagai medsos sehingga kita dibanjiri informasi yang membuat banyak orang tidak nyaman. Informasi bernada provokatif, agitatif, hingga fitnah berseliweran, diungguh, dan disebar dengan mudah tanpa menenggang hak dan perasaan orang lain.
Taufik Pasiak, ahli neurosains yang juga kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado, menyatakan bahwa literasi digital belakangan ini bisa menjadikan masyarakat Indonesia memasuki madness society (Masyarakat Gila). Hal ini ditandai dengan tidak berkorelasinya literasi digital dengan tingkat pendidikan formal ataupun status ekonomi.


“Banyak orang pintar dan terdidik jadi tidak bijak dan jadi penyebar informasi yang belum tentu benar. Keinginan untuk jadi sumber informasi pertama adalah ciri adanya masalah psikologi dalam masyarakat yang berpendidikan ini,” ungkapnya seperti di lansir salah satu surat kabar nasional.
Kondisi tersebut diperparah dengan mayoritas pengguna medsos yang tidak bijak dalam melakukan cross-check informasi yang diterimanya. Benar atau salah informasi tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting mereka menjadi yang pertama mengunduh dan menyebarkannya.
Ini adalah efek yang muncul dri pengguna medsos, yaitu tidak bisa mengendalikan perilaku di dunia maya (online disinhibition effect) sehingga norma di kehidupan sehari-hari seolah tak berlaku di dunia maya. Taufik Pasiak telah mengingatkan bahwa bangsa Indonesia rentan terpecah belah bukan karena perbedaan suku atau agama, tetapi kemampuan berpikir.


Literasi digital menuntut penggunanya bukan sekadar cerdas tapi juga bijak dalam memilih dan memilah luapan bah informasi. Tanpa terbentuknya kecerdasan dan emosi matang, literasi digital sebagai fenomena global yang sangat digandrungi masyarakat Indonesia ini akan menuju pada madness society (masyarakat gila).
Madness society kini telah didepan mata dan memekakkan telinga karena kegaduhannya yang mahadasyhat. Ciri-ciri masyarakat gila juga telah begitu nyata, seperti kompulsif, agresif, mudah melempar fitnah, menghujat, tidak bertanggung jawab dan lainnya.
Dengan kondisi tersebut, diperlukan pengaturan atau kontrol, baik secara internal, yaitu pengguna medsos, maupun pemerintah. Revolusi pendidikan formal ataupun di rumah tangga menjadi bagian wajib yang harus dilakukan agar kemampuan berpikir rasional masyarakat terbangun. Literasi digital masyarakat harus segera diperbaiki sehingga tidak sekedar memiliki kemampuan instrumental untuk mengoperasikan perangkat lunak di komputer atau telepon belaka. (*)

Pewarta : Dede Nana
Editor : Lazuardi Firdaus
Publisher : Sandi Alam
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top