Penggagas Boso Walikan 'Telah Hilang'

Komunitas peduli sejarah dan budaya, Lontar Sansekerta
Komunitas peduli sejarah dan budaya, Lontar Sansekerta

MALANGTIMES - Momentum Hari Sumpah Pemuda dilaksanakan secara khidmat oleh peserta Adventure yang diadakan oleh komunitas peduli sejarah dan budaya, Lontar Sansekerta.

Acara yang dilaksanakan pada Jumat (28/10/2016) ini dimulai pukul 14:30 WIB. Dalam acara tersebut turut hadir pula Mbakyu Kota Malang, Riri Endiani Febria dan wakil mbakyu satu Ladinia Dalintasya.

Pembukaan dilakukan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh peserta acara, setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan pembedahan Boso Walikan yang identik dengan ciri khas Kota Malang melalui berbagai pendekatan mulai dari sisi historis, sisi politik, bahkan sosial dan budaya.

Verdy Firmantoro S.I.Kom dan Debbi Candra Dianto S.S, penggiat budaya dan pendiri Lontar Sansekerta turut menjadi pemateri diskusi Boso Walikan.

Kedua penggiat budaya ini berupaya untuk menghidupkan kembali nilai-nilai penting dalam sejarah dan budaya agar tidak dilupakan khususnya oleh generasi muda.

Candra mengatakan bahwa sebenarnya Boso Walikan dicetuskan bukan oleh Mayor Hamid Rusdi, tetapi oleh pasukan Hamid Rusdi yang bernama Suyudi Raharno pada tahun 1949. Namun cerita-cerita fakta seperti ini masih sangat sedikit orang tahu.

“Penggagas Boso Walikan itu sekarang telah hilang, hilang karena banyak pemuda yang belum mengetahui, dan hilang yang benar-benar hilang. Dalam artian, ketika kami datang ke TMP Suropati, kita tidak menjumpai makam beliau bahkan pengurus TMP tidak tahu keberadaannya, sangat miris sekali,” ujar Candra.

Dari perspektif komunikasi politik, Verdy juga mengatakan bahwasannya Boso Walikan bisa menjadi strategi untuk terjun dalam dunia politik dalam rangka  mengikat kedekatan dengan orang-orang Malang. Jadi bagaimana komunikasi melalui boso walikan ini dapat menumbuhkan ikatan sosial yang kuat.

“Coba cari baliho atau spanduk atau apapun bentuk kampanye yang ada di Kota Malang. Mereka tak pernah luput dari boso walikan, entah itu hanya satu atau dua kata. Ini tujuannya untuk menunjukkan identitas dan mendekatkan dirinya kepada masyarakat Malang,” kata Verdy.

Begitu pentingnya pemahaman mengenai boso walikan dan seyogyanya jika masyarakat Malang juga turut mengenalinya. Bukan hanya menjadikannya tren budaya. Seperti yang dikatakan Riri Endiani, Mbakyu Kota Malang 2016 dalam acara kemarin.

“Bahasa walikan itu seperti peribahasa tak kenal maka tak sayang. Jadi kita harus mengenalinya, dari sejarahnya dan dari berbagai sudut pandang. Setelah kita sudah kenal, maka kita akan mencintainya,” kata Riri.

Peringatan Sumpah Pemuda ini ditutup dengan hiburan dari Komunitas Perkusi  Kertosentono, Kureto. Yang berisi anak-anak mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas.

Komunitas ini dibentuk oleh oleh Bapak Hari, karena melihat potensi anak-anak yang tak tersalurkan akhirnya Pak Hari berinisiasi untuk mewadahinya.

Pewarta : Aditya Fachril Bayu
Editor : Heryanto
Publisher : Aditya Fachril Bayu
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top