Sampaikan Pesan Perdamaian Melalui AMIPEC

Heather Variava, Xanana Gusmao, Hasan Abadi, Lukman Hakim dan Chong Ming Hwee saat menjadi pembicara di Unira (Foto: Nana/ MalangTIMES)
Heather Variava, Xanana Gusmao, Hasan Abadi, Lukman Hakim dan Chong Ming Hwee saat menjadi pembicara di Unira (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES- Banyak pesan perdamaian yang terlontar dalam Seminar The 2nd Annual Malang International Peace Conference (AMIPEC) yang diinisiasi oleh Universitas Islam Raden Saleh (Unira) Kepanjen, Jum'at (19/08/2016).

Seperti yang diungkapkan Rektor Unira, Hasan Abadi. Ia menegaskan perdamaian yang tumbuh dan lestari dalam masyarakat Indonesia yang beragam karena adanya ikatan teologis dan ideologis. Menurutnya heterogen masyarakat Indonesia dengan budayanya masing-masing adalah perekat demokrasi Indonesia.

"Sehingga para leluhur kita sejak tahun 1935 sudah memaklumatkan dan bersepakat bahwa perbedaan agama, suku bukan menjadi halangan berdemokrasi untuk menumbuhkan dan melestarikan kerukunan dan perdamaian. Demokrasi Indonesia adalah hasil dari keserasian antara teologis dan ideologis," kata Hasan Abadi dalam sambutan pembuka acara AMIPEC yang dihadiri oleh 100 peserta dengan latar belakang agama, suku, dan negara yang berbeda.
Seminar ini menghadirkan keynotespeaker Kayrala Xanana Gusmao (Former President of Timor Leste), KH. Lukman Hakim (Jakarta Speak Centre), Chong Ming Hwee (Baha’i International Community) dan Heather Variava (Consul General of The United States). 

Sub tema yang diangkat diantaranya Peace Education; Multiculturalism and Local Wisdom; Peace Building and Green Technology; Terorism, Violence and Security; Religious Fundamentalism; Grassroots Movement and Participation; World Peace and The Role of Mass Media; Community Empowerment and Socio-Entrepreneurship; Asymmetric Warfare; and Other Sub-Topics that match with the conference topic.

Rumusan pemikiran para keynote speaker yang dipaparkan di depan peserta bertolak dari adanya praktik-praktik intoleransi yang menyebabkan begitu banyak kasus kekerasan, perang, kemiskinan dengan mengatasnamakan agama, ras maupun politik.
"Kesatuan dalam perdamaian akan selalu berbenturan dengan kepentingan-kepentingan sesaat dan sempit yang dibungkus dalam politik praktis. Lembaga-lembaga internasional yang punya andil besar dalam menumbuhkan perdamaian terkadang ikut serta dalam penghambatan tumbuh kembangnya perdamaian," ulas Xanana Gusmao. 

Dengan kondisi ini, kesatuan, keyakinan, solidaritas tanpa memandang agama, suku,ras, negara adalah jalan keluarnya, lanjut Xanana. Lukman Hakim dari Jakarta Speak Centre  juga menyatakan saatnya seluruh elemen masyarakat mulai menumbuhkan perdamaian melalui gerakan budaya.
"Mulailah dari gerakan budaya dalam rangka menumbuhkan perdamaian ini. Simpul-simpul jejaring perdamaian akan lebih kuat apabila dimulai dari budaya masing-masing. Selain tentunya sebarkan konsep kesabaran dalam rangka meraih perdamaian," ulas Lukman Hakim.
Sementara itu  Bila  Nastiti, LO acara mengatakan kegiatan yang digelar bekerjasama dengan Gerakan Pemuda Anshor Kabupaten Malang ini diproyeksikan untuk merumuskan pemikiran-pemikiran lintas tokoh yang jadi narasumber sebagai bagian dalam menumbuhkan jejaringan perdamaian international. (*)

Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abi Fadlan
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top