Hasil Karya Mahasiswa UB Ini Efektif Mengusir Kelelawar

Masyarakat Tlogomas bersama mahasiswa dan dosen FT UB merakit alat pengusir kelelawar (Foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)
Masyarakat Tlogomas bersama mahasiswa dan dosen FT UB merakit alat pengusir kelelawar (Foto: Anggara Sudiongko/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kelelawar bisa saja menjadi pengganggu. Namun kini hal itu bisa diatasi dengan perangkat pengusir kelelawar inovasi mahasiswa dan dosen Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT-UB).

Alat tersebut diberikan kepada perwakilan karang taruna, remaja masjid, dan warga di lingkungan Masjid Al-Ghozali, Kelurahan Tlogomas, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang yang mengaku sering terganggu dengan keberadaan kelelawar.

“Awalnya, kelompoknya menawarkan pelatihan teknik perakitan solar cell dan piranti elektronik pendukung, namun ternyata warga juga curhat butuh solusi mengatasi gangguan kelelawar di lingkungan masjid. Akhirnya kami juga memberikan pelatihan pembuatan perangkat elektronik pengusir kelelawar," ungkap Eka Maulana, ST., MT., M.Eng, salah satu anggota kelompok.

Eka menjelaskan , prinsip kerja perangkat pengusir kelelawar sangat sederhana. Yakni menggunakan frekuensi ultrasonik yang dipancarkan melalui transduser untuk menganggu sistem komunikasi dan navigasi kelelawar.

"Pada prinsipnya semua makhluk hidup baik manusia, tumbuhan, maupun bakteri dan sejenisnya peka terhadap frekuesi tertentu," jelasnya.

Frekuensi tersebut dapat dibangkitkan pada nilai tertentu untuk proses berkomunikasi atau berinteraksi antara makhluk hidup seperti memanggil, mengusir, atau bahkan untuk membantu pertumbuhan.
Sementara, kelelawar mengeluarkan pulsa gelombang ultrasonik dengan frekuensi sekitar 30-50 kHz untuk sistem komunikasi dan navigasi.

"Melalui sinyal dengan frekuensi tertentu yang dipancarkan perangkat elektronik, kelelawar akan merasa terganggu dan diharapkan akan pergi serta tidak membuat kerusuhan," bebernya.

Eka mengibaratkan manusia juga akan terganggu dan risau bila didengarkan sinyal berfrekuensi tinggi.
Proses perakitan perangkat pengusir kelelawar juga tidak memakan waktu yang lama. Hanya saja untuk masyarakat awam dibutuhkan proses untuk mempelajari dan membuat pemrograman pada komponen mikrokontroller.

Komponen mikrokontroller ini digunakan untuk membangkitkan sekaligus mengukur frekuensi yang dihasilkan perangkat. Bahasa pemrograman yang digunakan adalah bahasa C.

Pada perangkat pengusir kelelawar yang terpasang sumber dayanya dibangkitkan menggunakan solar cell dengan daya keluaran 50 Watt. Solar cell ini terhubung dengan solar controller regulator, untuk kemudian disimpan ke dalam baterai dan mensuplai perangkat.

"Target awal solar cell hanya digunakan untuk menghidupi perangkat pengusir kelelawar. Tapi ke depan diharapkan bisa digunakan untuk cadangan listrik perangkat elektronik masjid seperti amplifier (pengeras suara) dan lampu untuk penerangan," tambah Eka.

Pembuatan perangkat pengusir kelelawar menghabiskan biaya kurang lebih Rp. 100.000,-, di luar komponen baterai dan solar cell. Jangkauan perangkat sejauh 5-10 meter.

Eka mengaku siap memberikan pelatihan di tempat lain bila memang dibutuhkan oleh masyarakat.
"Dari laporan takmir madjid yang dipasangi alat ini sejak alat dipasang sudah tidak ada lagi kelelawar yang masuk ke dalam masjid," ujar Eka. (*)

Pewarta : Anggara Sudiongko
Editor : Sri Kurnia Mahiruni
Publisher : Abdul Hanan
Redaksi: redaksi[at]malangtimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]malangtimes.com | marketing[at]malangtimes.com
Top